Saturday, January 1, 2011

Tragedi

Inggeris memang cerdas ketika angkat kaki dari Nigeria, Inggeris memaksakan sistem negara Federal untuk Nigeria yang merdeka. Para elitenya menerima dengan suka cita sistem ini, dan tentu peluang untuk menjadi penguasa. Tapi , tanpa disadari oleh rakyat Nigeria bahwa sistem federal itu bagaikan bomb waktu yang hanya soal waktu akan meledak. Benarlah, setelah inggeris hengkang dari Nigeria, komplik antar suku terjadi. Bagaimana tidak ? Nigeria mempunya 250 etnis dengan tiga besar etnis yang mendominasi , yaitu aitu Igbo dari Timur, Yoruba dari Barat dan Hausa-Fulani di utara. Selama 29 tahun setelah kemerdekaan, Pemerintahan Nigeria jatuh bangun dari satu junta Militer ke junta militer lainnya. Bahkan sejak tahun 1967 sampai tahun 1970 terjadi perang saudara Biafra yang mengakibatkan 2 juta orang kelaparan. Tidak ada stabilitas karena sulitnya bersatu.

Karenanya ketika terjadi perpindahan kekuasaan dari militer ke Sipil pada 20 mei 1999, ada harapan besar dari masyarakat akan lahirnya perubahan. Namun sampai kini tidak terjadi perubahan significant ditengah rakyat Nigeria. Infrastruktur ekonomi tidak terbangun dengan layak. Walau negeri ini dikenal sebagai penghasil minyak nomor 7 didunia namun power supply sangat terbatas. Orang kaya yang tinggal dikomplek perumahan mewah lebih memilih menyediakan Genset. Air bersih tidak tersedia secara layak dan orang kaya membor tanah untuk keperluan air minumnya. Soal angkutan umum sangat buruk. Orang kaya membangun rumah sakit international tapi orang miskin tak mampu membayar layanan kesehatan yang disediakan pemerintah walau dengan harga murah. Jurang antara orang kaya dan miskin menganga lebar. Hampir semua rumah orang kaya mempunyai layanan keamanan pribadi ( Satpam ). Yang pasti perkembangan demokrasi dan pertumbuhan ekonomi yang tidak merata selama sepuluh tahun terakhir justru menciptakan kemiskinan dan kekecewaan. Jangan kaget bila kini mulai bangkit hasrat sebagian rakyat untuk kembali kepada sistem junta militer.

Sistem demokrasi memang berhasil jalan namun juga berhasil menciptakan kantong kantong kekuasaan dalam sharing power yang sistematis. Yang menyedihkan adalah sharing power ini telah menjelma menjadi grombolan konpirasi para elite politik dan pihak Asing. Sebagian rakyat Nigeria percaya bahwa dibalik tingginya angka pertumbuhan ekonomi paska junta militer, juga terdapat tingginya angka korupsi dikalangan penguasa sipil. Dapat dibayangkan negeri yang kaya sumber daya migasnya namun 70 % rakyatnya hanya berpenghasilan N140 ata kurang dari USD 1 per hari. Walau Nigeria mengekspor minyak 2,1 juta barel perhari namun negeri ini sampai sekarang masih mengimpor bahan bakar minyak untuk konsumsi dalam negeri.Karena negara tidak punya rencana untuk membangun down stream migas dan industrialiasi untuk menggantikan minyak sebagai tulang punggung income negara.

Apa yang dialami oleh Nigeria juga berlaku seperti negara lain yang kaya akan sumber daya alamnya. Sistem negara memang sengaja di create lemah agar asing dengan mudah mengontrol negera itu. Asing kini berpesta di tengah euphoria demokrasi di Nigeria. Semua minyak di produksi melalui perusahaan patung dengan pihak asing seperti Shell Oil dan pemerintah ( SPDC / Shell Petroleum Development Company Nigeria Limited ) Shell Nigeria menyumbang lima puluh persen dari total produksi minyak Nigeria. Perusahaan ini memiliki lebih dari 100 ladang minyak, dan jaringan lebih dari 6.000 kilometer pipa, berjalan melalui 87 stasiun aliran. Hampir semua layanan publik di privatisasi ke pihak asing yang menjadikan rakyat sebagai konsumen untuk membayar. Dari itu semua geliat pembangunan nampak dipermukaan namun tidak bisa menutupi fakta kesenjangan ekonomi antara orang kaya dan miskin semakin lebar.

Seorang teman yang pernah berkunjung ke Nigeria berkata kepada saya ” Kalau ingin melihat tragedi militer maka Nigeria adalah contohnya. Kalau mau lihat tragedi demokrasi maka Nigeria adalah contohnya. Keduanya berbeda dalam sistem namun mindset elitenya tak berubah. Naluri korup ada dalam sistem apapun di Nigeria. Atau ada istilah Srigala memang punya naluri untuk memangsa dan berteman dengan pemangsa pula. Sayang , rakyat Nigeria tidak menyadari ini. Padahal mayoritas rakyat Nigeria adalah muslim. Mereka sudah ada Al quran dan Hadith untuk dasar mereka bersatu dan berubah lahir batin. Tapi mereka lupa dan lebih memilih sistem sekular yang hanya melahirkan srigala untuk memangsa mereka.

No comments:

Aksi Demo Penolakan UU Omnibus Law.

Hari ini demo menentang UU Omnibus Law berlangsung tidak tertip. Bahkan terkesan anarkis. Namun dalam kondisi terkendali oleh aparat keaman...