Monday, August 10, 2009

Afghanistan dan Opium

Polling yang dilakukan oleh CNN bekerjasama dengan lembaga Opinion Research Corporation melibatkan 1.136 responden dari kalangan usia dewasa di AS sejak tanggal 31 Juli sampai 3 Agustus. Dari seluruh jumlah responden, 54 persen responden menyatakan menentang perang AS melawan Taliban dan Al-Qaida di Afghanistan. Hanya 41 persen responden yang mendukung perang itu. Namun begitu pemerintahan Presiden Barack Obama tetap mengerahkan sekitar 21.000 pasukan tambahan ke Afghanistan. Dengan demikian, sampai akhir tahun nanti, jumlah pasukan AS di Afghanistan akan mencapai 68.000 tentara

Alasan mengemuka bagi AS mengirim tentara ke Afghanistan adalah untuk memburu jaringan teroris Al Qaeda. Ini alasan yang mudah dipercayai tapi sulit dipahami. Tapi yang pasti keberadaan tentara AS di Afghanistan memang berhubungan dengan kepentingan geostrategisnya. Utamanya karena menyangkut kepentingan jalur pipa minyak. Tapi mengapa dengan ini semua AS dan sekutunya harus mengorbankan dana tak terbilang dan korban tentara yang tidak sedikit. Perlawanan dari Taliban tidak pernah surut, bahkan sudah menjadi perang jihad membela tanah air dari serbuan penjajah asing. Bahkan Komandan tertinggi pasukan AS , Jenderal David McKiernan mengatakan bahwa AS tidak akan menang perang di Afghanistan. Akhirnya jenderal ini dipecat oleh Pentagon.

Kalau kita menoleh kebelakang sejarah keberadaan Afghanistan maka kita semua tahu bahwa Affhanistan pernah dijajah oleh Inggeris untuk dijadikan ladang candu. Perang Candu di abad 19 dengan China, karena alasan inggeris ingin kebebasan untuk mensuplai candu dari Afghanistan. Maklum saja bahwa 90% produksi opium dunia berasal dari Afghanistan. Berkembangnya waktu, business opium ini telah menjadi mesin uang bagi kelompok tertentu di Inggeris, yang juga menjadi pendorong kekuatan ekonomi AS.. Konspirasi antara AS dan Inggeris tak lebih untuk memperkokoh keberadaan pemain business dibalik itu, yang juga penguasa lembaga keuangan kelas dunia serta business minyak.

Munculnya Taliban yang menutup ladang opium membuat berang kekuatan yang selama ini diuntungkan dari business opium. Osama Bin Laden yang dituduh sebagai dalang peledakan menara kembar WTC dijadikan alasan bagi AS untuk menyerbu Affhanistan dan tak ketinggalan inggeris pun terlibat. Memang Afghanistan menjadi wilayah yang diperebutkan ditengah alasan yang gelap. Rusia yang pernah menguasai Afghanistan ketika itupun dengan alasan yang sama, yaitu opium. Ketika itu AS mendidik pejuang Taliban untuk melawan Rusia dan kini Rusia secara diam diam juga mendidik Taliban untuk melawan AS. Namun , sesungguhnya tidak ada Taliban yang dimaksud. Mereka yang diperalat itu tak lebih adalah anggota CIA, MOSAD, MI6, termasuk Osama Bin Laden yang didatangkan ke Afghanistan. Semua karena opium...

Sejak AS dan sekutunya menduduki Afghanistan, produksi opium meningkat pesat mencapai 8000 ton. Deputi Partai Konggres Nasional Afghnistan, Bashir Bizhan menyatakan, pasukan Inggris dan Amerika membagi-bagikan bibit tanaman opium kepada para petani Afghanistan. Presiden Iraq, Hamid Karzai juga sempat mengungkit keterlibatan pasukan Asing dalam aksi-aksi penyelundupan dan produksi narkoba di Afghanistan. Karzai juga sempat menuduh komunitas internasional gagal bekerjasama dalam upaya menanggulangi kenaikan produksi opium negara itu. Lantas bisakah dunia islam disadarkan tentang hakekat keberadaan tentara Asing di Afghanistan. Dari dulu dan sekarang, business opium sudah menjadi cara ampuh untuk mendapatkan dana dengan mudah dan sekaligus merusakan generasi penerus. Siapakah yang punya agenda ini yang mampu berlindung dari kekuatan militer raksasa ?

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...