Thursday, June 13, 2024

IUP kepada Ormas..

 



Berbisnis tambang atau konsesi itu tidak mudah. Karena tanpa mindset industri sangat berbahaya terhadap lingkungan. Anda harus punya sumber daya keuangan untuk ambil resiko saat proses explorasi. Tidak ada lembaga keuangan yang mau biayai proses explorasi itu. Artinya anda harus biayai sendiri. Kemudian proses exploitasi itu memerlukan seed capital besar sampai bisa provent sehingga layak dapatkan sumber dana dari bank atau pasar uang. Tanpa penguasaan teknologi, seed capital akan terbuang sia sia.


Apa yang terjadi di Indonesia dan negara berkembang lainnya?. Pengelolaan SDA itu bersifat rente.  Tender konsesi tidak diberikan kepada investor institusi tetapi kepada oligarki. Engga ada urusan dengan kemampuan financial dan teknologi. Selagi dekat dengan elite politik atau ring kekuasaan atau ormas yang berafiliasi dengan kekuasaan. Tender bisa diatur untuk dapatkan IUP atau konsesi


Setelah dapat IUP atau konsesi, biasanya mereka akan jatuh ke tangan broker investor. Apakah broker akan deal dengan investor ? tidak mungkin. Biasanya broker ketemu dengan trader yang bergaya seperti investor. Mereka kuasai konsesi itu lewat Participating interest (PI ) atau Couter trader dan off take guarantee. Nah berdasarkan kontrak dengan pemilik konsesi itu trader datangi bank untuk dapatkan uang dan kemudian masuk ke pasar uang untuk leverage dan exit.  


Jadi, walau eksplorasi, eksploitasi dan ekstraksi dengan banyaknya traktor dan truk, hauling road, pelabuhan, stockpile, smelter, itu terlaksana dengan mindset pedagang. Yang atur semua adalah trader. Pemilik konsesi hanya dapat fee. Misal untuk batubara, dapat fee USD 5/ton. Kalau setiap bulan ekspor 60.000 Ton aja, itu fee udah USD 300.000 atau  Rp 4,8 miliar. Gimana kalau lebih mencapai jutaan ton setahun. Hitung aja sendiri. Enak engga ? tanpa kerja keras, Ibarat kata, pemilik konsesi hanya dijadikan teman tidur ( sleeping partners )  doang oleh trader. Tiap bulan cuan masuk terus. 


Kalau ada masalah lingkungan, tugas pemilik konsesi yang elus telor aparat. Tugas aparat yang menghadapi masyarakat. Maklum pemilik konsesi dan aparat dapatkan fee dari setiap shipment ekspor.  Biasanya lagi setiap pemilik konsesi menempatkan tokoh masyarakat  atau elite partai  atau pensiunan TNI/POLRI sebagai komut. Mereka inilah yang disebut lingkaran oligarki. “ Anehnya mereka bangga lagi! Padahal dalam skema bisnis, mereka  di fuck oleh trader dan pemain hedge fund.Konsesi habis trader buang mereka dan tinggalkan alam yang sudah rusak  ” Kata Awi. Saya senyum aja.


Pemanfaatan SDA yang berbasis konsesi bisnis seperti Tambang, HGU kebun besar, Kawasan Real estate, seharusnya melalui standar tender biding khusus investor, yang punya kualifikasi dan kemampuan menyediakan dana dan teknologi. Mengapa ? agar terhindar dari rente dan lingkungan terjaga. SDA bisa optimal memakmurkan negara dan penerimaan pajak juga optimal.

No comments:

Ponakan Prabowo jadi Wamen ?

  "Pemimpin Indonesia yang akan segera habis masa jabatannya, Joko Widodo, melantik pada hari Kamis sebagai Wakil Menteri Keuangan Thom...