Sunday, January 13, 2019

berhutang untuk berkembang



Dahulu kala harta adalah sebidang tanah dan kumpulan ternak. Dari harta itu orang hidup dan menghidupi dirinya untuk berkembang dari generasi kegenerasi. Namun belakangan karena manusia semakin bertambah dan kebutuhan semakin meningkat maka kompetisi terbentuk. Harta tidak lagi diartikan ujud phisiknya. Tapi harta telah berubah menjadi selembar document sebagai bukti legitimasi dari penguasa. Selembar dokumen itu berkembang menjadi derivative asset bila dilampirkan dengan seperangkat izin ini dan itu. Kemudian digabungkan dengan yang namanya project feasibility maka jadilah sebuah akses meraih utang. Bukan dijual tapi digadaikan. Uang itu berputar untuk kegiatan ekonomi dan menghasilkan laba untuk kemudian digunakan membeli harta lagi. Ini disebut dengan nilai reproduksi capital atau project derivative value.

Bila laba semakin banyak , tentu harta semakin meningkat. Kumpulan dokumen harta ini dan itu , menjadi saham ( stock ) dalam lembaran dokumen bernama “perseroan”. Akses terbuka lebar untuk meningkatkan nilai harta itu. Penguasa semakin memberikan akses kepada harta itu untuk berkembang tak ternilai melalui pasar modal. Dengan harta itu memperoleh akses legitimasi dari agent pemerintah seperti underwriting, notaris, akuntan , lembaga pemeringkat efek, maka harta menjadi lembaran kertas yang bertebaran dilantai bursa dan menjadi alat spekulasi. Hartapun semakin tidak jelas nilainya. Kadang naik , kadang jatuh. Tapi tanah dan bangunan tetap tidak pindah dari tempatnya.

Akses harta untuk terus berkembang tidak hanya dilantai bursa. Tapi juga dipasar obligasi, Dokument Saham dijual sebagian dan sebagian lagi digadaikan dalam bentuk REPO. Ada juga melalui surat uang/ obligasi. Disamping itu akses permodalan conventional lewat bank terus digali agar harta terus berlipat lewat penguasaan kegiatan ekonomi. Dari pengertian ini, maka capital seperti yang disampaikan oleh Hernado de soto dalam bukunya “The Mystery of Capital” mendapatkan pembenaran. Kapital dapat mereproduksi dirinya sendiri. Bahwa harta bukanlah ujudnya tapi apa yang tertulis. Dan lebih dalam lagi adalah harta merupakan gabungan phisiknya dan manfaat nilai tambahnya. Nilai tambah itu hanya mungkin dapat dicapai apabila dalam bentuk dokumen dan separangkat ide hebat.

Siapa yang berhak mendapatkan akses utang itu? Ya mereka yang punya persepsi bahwa akses berhutang itu bukan akses mendapatkan uang gratis tetapi tanggung jawab lebih besar untuk berbuat lebih besar. Andaikan anda menutup akses berhutang itu sama saja anda menutup diri untuk berkembang. Menutup diri untuk bermanfaat sebanyak banyak bagi orang lain. Lantas untuk apa anda hidup? untuk diri sendiri? Tuhan ingin kita hidup menjadi berkah bagi orang lain. Semakin banyak berkah kita tebar semakin besar nilainya dihadapan Tuhan.

Uraian diatas keliatan mudah namun tidak semudah yang dibayangkan. Karena membutuh proses sampai pada tahap anda qualified menjangkau semua sumber modal. Kuncinya gimana ? Kalau ingin sukses meraihnya maka hormati pemerintah agar kita dapat legitimasi mengakses sumber pembiayaan tanpa batas. Hormati orang lebih tua, karena dari orang lebih tua kita belajar arti sukes dan gagal untuk berkembang lebih baik. Hormati orang kaya, karena dari mereka kita bisa mendapatkan business network untuk mengakses permodalan tanpa batas.. Jadilah pribadi yang hebat dengan bijak kepada penguasa, orang lebih tua dan sikaya agar hidup mudah diatas banyak solusi. Karenanya jadilah manusia yang rendah hati, mudah senyum , berpikir positip dan hindari konplik yang tidak perlu.

Dan setelah mendapatkannya maka berbagilah, karena Tuhan ingin anda bersyukur tidak hanya memujiNYA tapi juga memberi kepada mereka yang gagal bersaing..Mengapa ? Agar terjadi keseimbangan dan kehidupan terus tumbuh bersinambungan...SO change your attitude then financial resource will follow you..

***
Ada anak muda yang saya temui 12 tahun lalu di Hong Kong. Usianya sekitar 30an. Anak muda ini bergerak dibidang private equity yang mengelola beberapa business portfolio. Kami bertemu di Hong Kong Financial club. Dia sengaja menyediakan table untuk makan malam dengan saya. Jam tangan chopard black seharga USD 400,000 nampak serasi dengan setelan jas warna hitamnya. Ayahnya orang Amerika dan ibunya dari Korea. Dia lahir di Guam. Bisnisnya bermarkas di New York. Dia cerita bahwa dia sedang ikut tender untuk pembangunan proyek Hotel dan Apartement super mewah di Makkah, Arab Saudi.
“ Proyek ini tanahnya milik keluarga kerajaan. Mereka tawarkan kerjasama investasi membangun proyek ini. Pasar terjamin. Karena pemerintah Saudi akan beri Visa multiple entry bagi orang asing yang membeli Apartement ini. Saya yakin banyak orang muslim yang tertarik untuk membeli apartement ini. Apalagi ada skema investasi bagi pembeli apartement dengan return menarik. Sumber income dari pengelolaan penyewaan apartement dan hotel kepada jemaah haji dan umroh. Dan yang lebih menarik ….” Katanya
“ Apa ?
“ Saya punya akses ke fund manager di New York yang mengelola asset keluarga kerajaan Arab. Mereka bisa memberikan credit enhancement melalui penerbitan payment guarantee bagi EPC yang membangun proyek itu. 
“ Jadi skemanya turn key proyek.
“ Ya.
“ Nah, kalau ada EPC yang punya fasilitas credit di bank, tentu tidak sulit untuk membiayai proyek ini. Tetapi memang nilai proyek nya besar sekali. Diatas USD 1 miliar. “ Katanya.
“ Itukan hanya credit enhancement. Agak sulit untuk menarik pinjaman bank. Semua tahu kok, itukan ilegible collateral. “ Kata saya.
“ Saya paham. Saya punya exit yang bagus. Kita bisa terbitkan revenue bond melalui pasar terbatas setelah proyek selesai. Pembeli revenue bond itu adalah keluarga kerajaan sendiri. Saya sudah bertemu dengan beberapa fund manager mereka di London. Mereka siap menyerap revenue bond itu dengan value diatas 30% dari project cost. Dan ini cara refinancing yang menarik sekali. “
“ Mengapa begitu tingginya nilai revenue bond itu?
“ Karena market apartement dan holel itu sudah di offtake oleh Asset Manager dari Dubai yang punya akses ke jaringan travel agent umroh dan haji. Jadi proyek ini punya fixed income.
“ Wah hebat. Lantas apa yang bisa saya bantu ?
“ Gandeng EPC dari China yang mau membiayai proyek ini. Entah bagaimana anda bisa meyakinkan mereka. Yang jelas ini deal bagus.” katanya tersenyum. Kami kembali menikmati makan malam sambil mendengar suara merdu penyanyi yang diiringi oleh piano.

Proyek ada di Arab, dari keluarga kerjaan Arab. Yang mengandalkan pasar dari jemaah haji dan umroh. Arab tidak berhutang tetapi mengajak investor asing sebagai venture business. Skema pembiayaannya: Investor menarik dana melalui skema utang. Collateral dari asset milik keluarga Arab sendiri. Collateral tambahan melalui exit plan penerbitan surat utang yang berbasis revenue atau bagi hasil. Pre-financing proyek di lakukan oleh EPC dari China yang menarik utang dari bank di China. Setelah proyek selesai, utang lunas. Laba berbagi.

Proyek itu dibangun memang tidak dari utang pemilik proyek tetapi melalui kerjasama dengan investor. Sementara investor hanya punya skema dan ide berhutang. Arab tidak salah karena bagi mereka utang swasta itu haram atau riba. Ini soal persepsi. Sementara persepsi investor, utang bukan riba tetapi seni berbagi. Nah siapa yang smart?..

***
Ada teman pengusaha yang sebelum krisis moneter usahanya berkembang pesat. Hartanya terus tumbuh seiring bertambahnya perusahaan dibawah kendalinya. Namun ketika krisis moneter 1998, hanya hitungan bulan, usahanya bangkrut dan assetnya masuk program BPPN. Bukankah dia kaya dan perusahaannya banyak? Mengapa sampai bangkrut begitu cepat ? Apakah benar karena kurs rupiah yang terjun bebas? Kalau saya telaah keadaan ketika krismon, baik dunia usaha maupun pemerintah sudah bangkrut jauh sebelum krismon. Krismon hanya terompet kematian saja. Mengapa ? Secara intelektual dan spiritual memang fondasi rapuh. Apa penyebab sesungguhnya ?

Ketika penerimaan tinggi, pertumbuhan usaha juga tinggi namun hutang terus di gali. Peningkatan utang memang lebih rendah dibandingkan peningkatan harta karena adanya laba. Tapi harta itu sebagian besar berupa harta tidak produktif. Para pengusaha ketika itu berlomba lomba menumpuk harta pribadi didalam maupun luar negeri. Gaya hidup mereka benar benar seperti orang miskin mendadak kaya. Tak ubahnya dengan boss First Travel. Dan ketika penerimaan jatuh, kemampuan berhutang juga turun maka sudah dipastikan perusahaan tumbang begitu cepat. Mengapa harta yang ada tidak bisa menyelamatkan? Harta itu sebagian besar berupa tanah, bangun dan kendaraan juga segala aksesoris hidup mewah. Itu harta ketika dibeli adalah asset tidur dan ketika hendak di jual juga tidak mudah. Ada harta , ada harga tapi pasar tidak tersedia meresponse cepat.

Begitu juga halnya dengan negara. Peningkatan penerimaan dari SDA dengan diikuti menigkatnya GNP sangat luar biasa. Hutangpun terus digali. Tapi peningkatan GNP itu tidak punya value dan sebagian besar kntribusi PMA akibat penguasan SDA. Dan ketika krismon terjadi, seluruh asset yang ada nilainya hanya 30 %. Seketika GNP drop maka perbandingan GNP terhadap hutang mencapai lebih 100%. Pertumbuhan ekonomi langsung drop. Stuck terjadi dimana mana. Indonesia butuh 6 tahun untuk keluar dari krisis. 

Di Era SBY, ternyata sistem Orba kembali diterapkan. Penerimaan negara dari SDA akibat harga komoditas utama naik dipasar dunia , bukannya di pakai untuk peningkatan asset produktif ( pembangunan trans Papua, Kalimantan, Sumatera dll ) malah sebagian besar masuk asset non produtif yang berongkos mahal dan subsidi Rp. 3000 triliun dibakar untuk BMM selama 10 tahun berkuasa. Memang hutang tumbuh relatif kecil persentasenya dibandingkan peningkatan GNP, tapi itu GNP tidak punya value. Bernarlah dampaknya, tahun 2011 sampai 2013 terjadi neraca perdagangan mengarah ke defisit dan hutang mulai di kerek untuk menutupi defisit. Menjalng akhir masa jabatan SBY , Current acount kita sudah merah mendekati insolvent.

Untunglah Jokowi terpilih sebagai presiden. Dia tanpa banyak menanti dalam wacana, langsung melakukan restruktur APBN dengan lebih besar pos belanja fiskal daripada konsumsi dan subsidi. Ketika itu seluruh elite politik tidak berani karena takut resiko politik akan menimbulkan Chaos. Tapi Jokowi sebagai risktaker tetap dengan agendanya. Go Go ! Penghematan atas belanja pegawai dilakukan di ratusan pos anggaran. Hasilnya bisa dilihat pertumbuhan hutang meningkat namun Pemupukan Modal Tetap Bruto negara juga meningkat. Makanya pertumbuhan ekonomi ditengah krisis global tetap terjadi, dan hutang berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi tanpa ada goncangan makro ekonomi. Terbukti rasio Debt to GNP tetap dibawah 30%. Artinya hutang yang ada semua masuk ke sektor produksi dan investasi dan ini menambah value GNP. Tidak ada hutang untuk subsidi dan asset tak produktif. Dan ini dimasa depan akan jadi mesin pertumbuhan yang efektif untuk membuat indonesia semakin mandiri..

Jadi indonesia tidak krisis utang tapi justru utang meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pemupukan modal brurto dalam bentuk infrastruktur ekonomi. Model ini menjadikan indonesia punya unlimited financial resource di money market..engga perlu lagi ngemis dengan negara lain atau ngemis dengan Worldbank untuk berhutang, Cara Jokowi sederhana, dia tidak memaknai uang dan utang seperti tukang jual sprei online tapi uang seperti cara berpikir warren buffet : Create value and then financial resource will follow you.


No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...