Saturday, January 16, 2010

komponen industri

Pasar bebas itu baik kalau mengakibatkan harga barang murah. Pasar bebas itu baik kalau melahirkan budaya kompetisi yang fair. Pasar bebas itu baik kalau meningkatkan mutu. Namun, pasar bebas itu jahat kalau mengakibatkan harga barang naik, kompetisi tidak fair, mutu jelek. Itulah dasar berpikir pasar bebas sebagai derivative dari neoliberal. Berbagai kebijakan Negara harus menjamin terlaksananya rezim neoliberal ini. Para kreditur international mensyaratkan ketaatan Negara penghutang untuk mengikuti pola berpikir ini. Kalau tidak ,sumber pendanaan tidak mengalir. Kampanye pasar bebas untuk kebaikan konsumen terus disuarakan pemerintah sebagai kelanjutan dari kesepakatan mutilateral yang sudah ditanda tangani.

Soal pasar bebas ini saya hanya ingin membuat cerita dari sisi praktisi saja.Telekomunikasi di Indonesia ada banyak dan tariff menjadi bersaing. Kalau kita pergi kepasar retail akan nampak berbagai produk consumer goods. Kita lihat mereka berkompetisi untuk itu. Tapi tahukah anda bahwa produk dan jasa itu tidak datang dengan sendirinya. Ia merupakan akibat dari ketersediaan , pertama dibuat dengan berbagai bahan campuran non natural yang merupakan proses dari Chemical industry, biotechnology. High technology. Kedua, untuk membuatnya memerlukan mesin canggih. Ketiga , Untuk membangunnya memerlukan modal. Ketiga hal ini pengadaannya hampir sebagian besar dikuasai oleh Transnasional Corporation ( TNC). Jumlah TNC ini tidak banyak sebagai holding Corporation namun anak perusahaannya ribuan jumlahnya.

Hampir semua kebutuhan lahiriah kita seperti Makan, minum, pakaian, kendaraan, kesehatan, obat obatan, hiburan dan lan lain, pasti berujung kepada penguasaan TNC. Kehebatan TNC ini mereka segelintir saja jumlahnya di planet bumi ini. Berdasarkan Fortune Global 2009, AS menempati urutan pertama sebagai negara yang memiliki 140 TNC. Negara UniEropa sebanyak 163 TNC, Jepang sebanyak 68 TNC dan China hanya 37 TNC. Keberadaan TNC ini sudah menggurita dan kepemilikannya sudah terdistribusi secara sistematis diantara orang kaya didunia melalui sistem pasar modal dan pasar uang yang borderless.

Sifat TNC selalu ingin biaya produk atau jasa semurah mungkin dengan harga jual setinggi mungkin. Ini hukum ekonomi yang diajarkan diberbagai kampus didunia. Dengan philosopi ini ,maka management bekerja keras untuk memuaskan pemegang saham agar mendapatkan dividen tinggi. Memuaskan negara agar mendapatkan pajak tinggi. Memuaskan karyawan agar mendapatkan bonus dan gaji tinggi. Keadaan ini berlangsung terus hingga melahirkan komunitas eksklusiv yang membawa budaya brengsek seperti sikap individualisme, konsumerisme, hedonisme, oportunis, anti religi, dan lain sebagainya. Hal ini diketahui betul oleh China ketika membuka diri dari tirai bambu.

China masuk dalam pasar kapitalis tapi tidak menjadi kapitalis. Keberadaan TNC dilawan dengan memperkuat industri hulu, industri strategis lewat penguasaan BUMN yang kuat dan terorganisir dengan baik. Walaupun TNC masuk ke China tapi tidak untuk mengontrol tapi dikontrol secara sistematis oleh negara lewat cross ownership, control currency dan lain lain. Akibatnya semua kekuatan dunia usaha tetap berbasis kepada kepentingan dalam negeri china sendiri. Crisis Global kemarin ini , adalah puncak dari pertarungan antara system China dan Kapitalis ala barat. Banyak TNC di Eropa, AS , Jepang mulai limbung dan berteriak minta tolong kepada pemerintahnya. Tapi China terus melaju masuk kepasar yang sudah terlanjur diregulasi dunia untuk menjadi bebas dengan harga murah.

Banyak ekonom dunia berpikir bahwa crisis ini dapat diatasi dengan cepat. Tapi nyatanya sampai kini terus berlanjut. Beberapa perusahaan raksasa seperti JAL di jepang sudah merumahkan karyawannya. Akan banyak lagi TNC yang akan merumahkan karyawan ditahun tahun mendatang. Biang persoalannya adalah budaya kapitalis yang terlanjur memanjakan para pemegang saham, karyawan, pemerintah , tidak mudah dihentikan. Ini adalah crisis kebudayaan. Apakah karyawan TNC mau digaji murah seperti buruh di China?, Apakah pemegang saham mau mendapatkan yield rendah seperti pemegan saham di China?, Apakah pemerintah mau menerima pajak rendah seperti pemerintah China ? inilah masalahnya. Jangan salahkan china bisa menjual harga barang murah.

Yang menyedihkan adalah dalam pertarungan global antara China dan Barat, Indonesia justru menempatkan diri sebagai penyokong Barat. Potensi sumber daya alam , pasar, penduduk, dipesembahkan sepenuhnya untuk kepentingan TNC. Kini ketika poduk China masuk dalam koridor CAFTA kita mulai marah karena kalah bersaing. Kita baru sadar dan terbuka mata lebar lebar akibat dari liberalisasi. Padahal selama ini yang membuat produk kita tidak bisa bersaing karena kita menjadi follower Barat dan tunduk terhadap loby TNC. Budaya kita dari para pabrikan, pemerintah , pengusaha tidak jauh beda dengan gaya manusia TNC yang kemaruk soal harta, wanita dan tahta. Karena itu tak penting nasip orang lain akan teraniaya.

Suka tidak suka, kenyataanya keberadaan TNC telah membuat negara yang berbasis paham demokrasi kapitalis , pemimpinnya tak berdaya untuk bersikap berlawanan dari kehendak TNC tersebut. Dari komunitas TNC yang
segelintir itu, kita hidup dalam diktator kapitalis yang mengakibatkan ketidak adilan terjadi dimana mana. Belajarlah dari semua ini untuk menjadi diri kita sendiri, sebagai bangsa yang paling baik falsafah negaranya. Yang paling kaya sumber daya alamnya. Yang paling strategis letaknya. Saatnya kembali kepada hakikat yang diamanahkan oleh pendiri dan para syuhada pembela kemerdekaan kita. Tidak ada istilah terlambat. Jangan sampai semua baru disadari ketika darah revolusi tumpah lagi dibumi pertiwi. Jangan lagi...

No comments:

Nasip Politik Anies.

  Dulu awal Anies berkuasa,  setiap saya mengkritik Anies soal banjir, pasti akan diserang oleh pendukung Anies. Mereka menolak “normalisas...