Saturday, June 25, 2016

Utang era Jokowi ?

Benarkah utang era Jokowi mengalahkan utang presiden sebelumnya. Demikian kata teman saya. Saya maklum teman ini karena pemahamannya terbatas dan informasi yang didapatnya adalah informasi instant dari sosmed. Sebelum saya jawab pertanyaannya maka saya luruskan dulu soal siapa yang berutang. Yang berutang adalah Negara Indonesia. Bukan pemerintah. Karena sejak reformasi maka tidak ada lagi utang pemerintah yang seenaknya di putuskan oleh seorang presiden seperti era Soeharto. Tapi utang Negara dimana hak DPR memutuskan besaran utang yang boleh pemerintah ambil. Untuk itupun DPR melaksanakan hak nya berdasarkan UU mengenai pagu utang yang bisa di tambah. Jadi jelas kan. Kembali kepada pertanyaan ,apakah benar Jokowi menarik utang lebih besar dari rezim sebelumnya. Baiklah kita lihat data. Utang di era pemerintahan Presiden Jokowi hingga akhir 2015 mencapai Rp 3.089 triliun setara 223,2 miliar dollar AS dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) 27 persen. Sebesar nilai ini bukanlah utang semua di lakukan oleh pemerintahan Jokowi tapi ini merupakan akumulasi dari pemerintah sebelumnya. Siapa saja ?

Ketika Soekarno wafat ia meninggalkan warisan utang sebesar USD 6,3 miliar. Itu utang selama Soekarno berkuasa selama 21 tahun. Data dari Kemenkeu Era Soeharto, selama 32 tahun berkuasa, menggali hutang sebesar USD 68,7 miliar. Soeharto jatuh, di gantikan ole Habibie.  Akumulasi hutang menjadi USD 132,2 miliar. Ada penambahan utang sebesar USD 63,5 Miliar sebagai konsekwensi penyelesaian BLBI era Soeharto. Habibie jatuh digantikan oleh Gus Dur. Akumulasi utang menjadi USD 122,3 Miliar atau turun sebesar USD 9,9 Miliar. Gus Dur di gantikan oleh Megawati yang akhir masa jabatannya akumulasi hutang mencapai USD 139,7 Miliar atau terjadi penambahan utang sebesar USD 17,4 Miliar. SBY berkuasa selama 10 tahun telah melakukan utang baru mencapai USD 136,6 miliar. Akumulasi utang ketika akhir masa kekuasaanya SBY atau pada kwartal juni 2014 menjadi sebesar US$ 276,3 Milyar. Nah pada akhir tahun 2015 total utang Indonesia sebesar USD 223,2 miliar. Atau kalau di bandingkan dengan masa akhir kekuasaan SBY, telah terjadi pengurangan utang sebesar USD 53 miliar. Ini terjadi karena restruktur utang yang dilakukan secara hati hati. Dengan kondisi ini Jokowi berhasil bertahan dengan memperkuat fiscal melalui pengetatan anggaran belanja rutin untuk di alihkan ke sector infrastruktur dan penambahan modal bruto pemerintah di bidang peningkatan saham di BUMN dan sarana umum.

Kalau di kurs-kan ke rupiah memang terjadi peningkatan significant namun harus di catat bahwa kurs selalu  berhubungan dengan cash in and cash out. Selagi keseimbangan terus di jaga dan transaksi berjalan di jaga tidak terlalu besar defisit atau kalau bisa surplus maka pelemahan kurs tidak berdampak kepada penurunan grafik fundamental ekonomi nasional. Karena ketika kurs melemah impor akan turun dan ekspor akan meningkat. Daya saing dalam negeri meningkat terhadap barang impor. Ini akan memicu produksi dan menekan konsumsi. Apakah tingkat utang Indonesia sekarang berbahaya ? Secara akuntasi kenegaraan kondisi utang itu belum berbahaya bahkan di nilai sangat exciting di pasar uang. Mengapa saya jadikan indikasikan pasar uang karena yang paling objectif menilai ekonomi suatu Negara adalah pasar uang. Mereka punya standar ketat terhadap penilaian resiko dan yield dari setiap Negara. Apa alasannya ? menurut data Bareksa ,Pertama , Naiknya peringkat kredit Indonesia ke kategori layak investasi (investment grade). Tidak dapat dipungkiri, kenaikan peringkat kredit ini sangat berpengaruh terhadap arus masuk dana asing ke dalam negeri. Hal ini tercermin dari peningkatan volume dana masuk ke pasar obligasi mulai pertengahan tahun 2015, dibandingkan periode sebelum Indonesia mendapatkan peringkat itu. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari tiga lembaga pemeringkat dunia telah memberikan stempel 'layak investasi' dengan outlook 'stabil' terhadap Indonesia. Bahkan, Moody's dan Fitch Ratings memberikan peringkat 'layak investasi' pada waktu hampir bersamaan. Hanya Standard & Poor's (S&P) yang masih mempertahankan peringkat Indonesia pada level BB+ atau outlook positif.

Alasan kedua, turunnya risiko investasi di pasar obligasi Indonesia. Kondisi ini tercermin dari turunnya nilai Credit Default Swap (CDS) Indonesia. CDS merupakan kontrak swap di mana pembeli melakukan pembayaran ke penjual sementara pembeli menerima hak untuk memperoleh pembayaran bila kredit mengalami default atau kejadian lain yang tercantum dalam credit event, misalnya kebangkrutan atau restrukturisasi. Dengan kata lain, CDS adalah sejenis perlindungan atas risiko kredit. Nilai CDS 5 dan 10 tahun pada tiga bulan terakhir mengalami penurunan. Penurunan ini dapat disebabkan beberapa faktor, seperti membaiknya kondisi ekonomi. Ini termasuk menyempitnya defisit transaksi berjalan Indonesia, rendahnya inflasi tahunan, serta pertumbuhan ekonomi yang masih terjada di level 5 persen. Selain itu, CDS Indonesia baik yang periode 5 ataupun 10 tahun saat ini bergerak relatif stabil jika dibandingkan periode tahun 2008 dan 2011. Pada kedua tahun itu, CDS Indonesia bergerak dengan volatilitas yang sangat tinggi, karena berhubungan dengan ekspektasi akan kemampuan Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi.

Ketiga, yield obligasi yang ditawarkan lebih menarik dibandingkan negara sejenis. Yield yang ditawarkan obligasi Indonesia masih menarik dibandingkan negara-negara 'fragile five' lainnya, kecuali China. Berdasarkan data, yield obligasi Indonesia mengalami penurunan paling kencang yang kemudian disusul oleh Afrika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa investasi surat utang di Indonesia jauh lebih menjanjikan dibandingkan tiga negara lainnya, yakni Afrika Selatan, India, dan Brasil. Ketiga hal di atas memicu berbondong-bondongnya investor asing masuk ke instrumen utang Indonesia.
Adapun ke empat, adanya aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang mewajibkan peningkatan dana investasi asuransi dan dana pensiun pada instrumen obligasi. Lembaga jasa keuangan non-bank diwajibkan Peraturan OJK No.1/POJK.05/2016 untuk meng-investasikan sekitar 20-30 persen dana mereka di surat utang negara, baik obligasi konvensional ataupun obligasi syariah (sukuk) yang diterbitkan pemerintah. Perusahaan asuransi jiwa diharuskan menempatkan dana pada Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 30 persen dari keseluruhan nilai investasi. Sementara itu, perusahaan asuransi umum dan reasuransi, minimal 20 persen. Adapun Dana Pensiun diwajibkan sedikitnya 30 persen di SBN. Menurut data, porsi kepemilikan obligasi oleh perusahaan asuransi meningkat menjadi 12,36 persen pada tanggal 18 April 2016 dari sebelumnya hanya 11,74 persen pada akhir tahun lalu. Kepemilikan obligasi oleh Dana Pensiun juga mengalami kenaikan pada periode yang sama menjadi 3,55 persen dari sebelumnya 3,41 persen. Selain kedua lembaga tersebut, porsi kepemilikan obligasi dari perusahaan pengelola reksa dana juga mengalami kenaikan, menjadi 4,49 persen dari sebelumnya 4,21 persen.

Dengan demikian maka apa yang luar biasa di era jokowi adalah kemampuan pemerintah melakukan restruktur utang agar lebih besar pasar dalam negeri menyerapnya. Agar dalam jangka panjang porsi utang kepada rakyat lebih besar di bandingkan utang ke luar negeri. Dengan begitu kemandirian di bidang eknomi akan semakin kokoh dan ancaman hantaman krisis yang secara regular datang dapat di atasi. Jadi secara ekonomi dan moneter pemerintah telah bekerja dengan cara cara smart dengan langkah berani untuk berubah dari kesalahan masa lalu untuk menjadi lebih baik di masa depan…


Friday, June 24, 2016

Indonesia,Laut China Selatan


Satu satunya cara agar China tidak bisa menentukan sikap sepihaknya mengenai laut China selatan adalah apabila seluruh negara yang berada di kawasan laut China selatan yang di persengketakan itu bersatu. Komunike bersama ini bisa jadi alat ampuh di forum PBB maupun di pengadilan Denhaag ( The Permanent Court of Arbitration /PCA). Itu sebabnya Amerika menggunakan negara ASEAN mengeluarkan komunike terhadap sikap China. Namun tahun 2012 KT ASEAN gagal mencapai kata sepakat soal China karena Kambodja menolak. Padahal KTT ini di tinjau langsung oleh Menlu Amerika. Di laut China selatan yang jelas jelas bersengketa dengan China adalah Philipina, Vietnam , Malaysia dan Bruney. Indonesia sejak era Soeharto sampai SBY tidak pernah terpancing provokasi China makanya tidak terdengar sengketa dengan China. Apalagi SBY bersikap ZERO enemy. Namun di era jokowi setiap upaya provokasi di hadapi dengan tegas. Lantas mengapa sebegitu pentingnya bagi China laut China selatan ini ? Ini tentu didasarkan faktor Geostrategi dan geopolitik kawasan.

Alasan utama sengketa perebutan wilayah Laut China Selatan adalah kandungan gas alam dan minyak buminya. China menerbitkan estimasi tertinggi, menyatakan Paracel dan Spratly mungkin mengandung 213 miliar barel minyak bumi. Angka ini sekitar tujuh kali lipat perkiraan para peneliti Amerika Serikat. Gas alamnya pun melimpah. Menurut Administrasi Informasi Energi Amerika Serikat, Laut China Selatan memiliki sekitar 25 triliun meter kubik gas alam, sama besar dengan cadangan gas alam Qatar. Belum lagi kekayaan ekosistem perairannya. Mengapa Amerika merasa perlu terlibat ? Ya karena kepentingan AS di Laut China Selatan terkait dengan kebebasan pelayaran di perairan seluas 1,2 juta mil persegi yang menghubungkan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Setiap tahun, nilai perdagangan yang melintasi perairan tersebut mencapai US$5,3 triliun. Dari jumlah itu, sekitar US$1,2 triliun merupakan nilai perdagangan AS. Jika terjadi konflik di Laut China Selatan, itu akan menimbulkan dampak ekonomi yang sangat besar karena akan banyak pengalihan kapal kargo di wilayah tersebut.

Lantas dasarnya apa China meng claim wilayah laut China selatan sebagian adalah wilayahnya ? Ya berdasarkan sejarah berusia dua ribu tahun. Pada tahun 1947 China menerbitkan sebuah peta yang memerinci klaim wilayahnya dan mendeklarasikan memiliki bagian terbesar teritori Laut China Selatan, mencakup ratusan kilometer di selatan dan timur Hainan, provinsi paling selatan negara itu. Atas dasar batas garis imajiner Nine Dash Line yang ditetapkan oleh Cina, Paracel dan Spratly sebagai bagian integral bangsa China. Dan sebagian Natuna juga masuk wilayah China. Namun claim China terhadap kawasan laut China selatan sudah di gugurkan oleh PBB dan kalah di pengadilan International di Denhaag. Namun China tidak peduli. Hanya AS yang dapat menghadapi China. Upaya untuk mengimbangi pengaruh China memang menjadi strategi global AS. Langkah itu tidak hanya dilakukan melalui jalur diplomasi, tetapi juga dengan menggunakan kekuatan militer. AS terus memperkuat keberadaan militer mereka di kawasan Asia Pasifik. Seperti penempatan pasukan marinir di Darwin, Australia. Dan patroli laut yang di lakukan kapal induk AS. Namun kapal induk China juga me- shadow setiap patroli kapal induk AS. Memang selalu menegangkan.

Nah, bagaimana posisi Indonesia? Sebelumnya satu satunya yang tidak bisa di lakukan China dalam konflik laut China selatan adalah mengakui wilayah negara lain yang masuk 9 titik. Bulan Maret 2015 ketika lawatan ke Jepang, Jokowi bersuara keras terhadap sikap China yang menjadikan Natuna sebagai wilayahnya. Dari jepang Jokowi melanjutkan lawatan ke China dan sikap tegas ini di sampaikan langsung ke Presiden China. Tahun 2015 bulan November Kantor Menlu China mengumumkan bahwa China mengakui kedaulatan Indonesia atas Natuna dan karena itu perjanjian bilateral dibuat bahwa antara Indonesia dan China bukan negara yang bersengketa.  Ini sangat mencengangkan dunia. Semua itu karena sikap tegas Jokowi dalam menjaga kedaulatan negara. Sejengkal pun China masuk wilayah RI maka akan disikapi tegas oleh TNI. Makanya sikap Pemerintah sekarang tegas pada setiap pelanggaran laut yang dilakukan di laut China selatan khususnya 200 mil dari ZEE , Natuna. Bahkan Menko Polkam maupun Pangab menganggap tidak perlu pusing bila harus bersikap tegas terhadap kapal berbendera asing termasuk kapal China yang melanggar perbatasan. Ini bukan soal jago jagoan mau konfrontatif tapi demi penegakan hukum di wilayah RI. Indonesia punya hubungan bisnis di segela bidang dg China namun Bisnis adalah bisnis tapi kedaulatan adalah segala galanya.

Sunday, June 19, 2016

Syariah Islam...?


Ketika Aceh menjadi Daerah khusus yang berlandaskan pada syariah Islam, saya merasa yakin bahwa perjuangan menegakkan panji Islam akan kembali berkibar di Di Aceh. Cahaya Islam yang menebarkan cinta dan kasih sayang serta keadilan bagi semua akan kembali bangkit di wilayah dimana Kesultanan Islam pernah berjaya. Namun suatu saat saya bertemu dengan aktifis anti korupsi berkata bahwa dari tahun ke tahun kita dapat laporan bahwa Aceh menempati kelompok daerah dengan tingkat korupsi tertinggi di Indonesia. Apakah Aceh makmur dengan adanya HUKUM syariah ? Tanya saya. Data BPS mengindikasikan Aceh masuk rangking 7 dari 10 daerah termiskin di Indonesia. Ini menandakan bahwa tegaknya syariah Islam yang di perjuangkan dengan darah berpuluh tahun tidak menunjukan Islam sebagai rahmatan Lilalamin. Islam hanya di gunakan partai untuk meraih kekuasaan dan akhirnya tak beda dengan sekular. Namun lebih buruk dari sekular. Bagi elite politik Aceh, kebenaran itu hanya sesuai dengan definisinya. Politisi agama itulah yang jadi kian tampak di Aceh, yang kemudian juga berkembang di tempat lain dengan munculnya Perda Syariah. 

Politisi islam berbeda dengan “Islam nilai”. Dalam suasana itu, suatu usaha untuk meng-ideologi-kan Islam bergelora. Padahal dalam pandangan Tauhid, yakni menuntut manusia hanya takut pada satu kekuatan, yaitu kekuatan Tuhan, yang lain hanyalah kekuatan yang tidak mutlak alias palsu. Tauhid menjamin kebebasan manusia dan memuliakan hanya semata kepada-Nya. Pandangan ini menggerakkan manusia untuk melawan segala kekuatan dominasi, belenggu, dan kenistaan manusia atas manusia. Tauhid memiliki esensi sebagai gagasan yang bekerja untuk keadilan, solidaritas, dan pembebasan. Ini yang nampak dilupakan oleh kebanyakan mereka yang mengusung dalil Islam. Mereka menutup segala ilmu dan bahkan dianggap bid’ah apabila tidak sesuai dengan dalilnya. Padahal hadirnya Ilmu didunia ini karena Allah. Tidak ada yang terjadi tanpa campur tangan Allah. Bahwa Allah disamping menurunkan Ilmu khasshah melalui Al Quran dengan perantara Rasul , Allah juga menurunkan ilmu ‘ammah kepada manusia secara langsung yang disebut dengan ayat-ayat kauniyah. 

Artinya ,apakah sesuatu yang tidak diatur dalam Al-Quran lantas bukan berasal dari Allah? Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)”. (QS al- Kahfi [18]:109). Jadi salah besar bila agama dikotak oleh harakah dan meng claim hanya dalil nya saja yang benar. Islam terlalu luas untuk hanya di monopoli satu harakah saja. Apalagi hanya berlandaskan kepada ilmu khasshah dan miskin ilmu ‘ammah. Dan pemaksaan dalam agama adalah sikap yang anti Alquran. Bila kita merindukan perubahan, maka dibutuhkan Raushanfikr (orang-orang yang tercerahkan), yakni individu-individu yang sadar dan bertanggung jawab membangkitkan karunia Tuhan Yang Mulia, yaitu “kesadaran diri” masyarakat. Sebab hanya kesadaran diri yang mampu mengubah rakyat yang statis dan bobrok menjadi suatu kekuatan yang dinamis dan kreatif. 

Sebagaimana Sosialisme adalah paham yang berpihak pada kaum tertindas (mustadzafin) dan meluruskan perjalanan sejarah dari kekuasaan tiran menjadi kelompok tercerahkan, berpihak pada kelas bawah (proletar) bersama orang-orang yang berada di jalan Tuhan. Kebenaran dari mana pun “kompatibel”. Tak ada kebenaran yang bentrok dengan kebenaran lain. Mereka semua penghuni dari rumah yang sama, dan bintang dari gugus yang sama. Kita tak mungkin memiliki semua kebenaran, dan kita membutuhkan tempat lain serta orang lain untuk membantu membuka aspek yang berbeda dari kebenaran itu: "pengetahuan keagamaan secara keseluruhan adalah narasi panjang dari masa ke masa yang mengalir seperti di dalam sebuah sungai besar,” Maka, Islam bukanlah, dan tak seharusnya jadi, sebuah ideologi—sesuatu yang di asumsikan sempit, yang di pahami sendiri , yang bisa mengclaim anda paling benar dalam segala hal, membimbing segala ihwal.

Ketika ada yang berkata  bahwa ia paling benar dalilnya maka ada dua hal yang sedang dia perjuangkan, pertama adalah agama sebagai alat merebut hegemoni politik untuk meraih kekuasaan, kedua, memperkecil nilai islam itu sendiri agar Islam sebagai rahmatanlilalamin meredub melalui kampanye perbedaan mahzab, golongan, etnis. Keduanya sengaja untuk melepaskan agama sebagai kekuatan individu, yang terikat langsung dengan sang Khalik. Makanya hak individu dalam menentukan pilihannya sangat ditentang oleh mereka. Mereka membenci kebebasan dan segala turunan yang membela hak azasi manusia yang tidak sesuai dengan dalil mereka. Mereka punya visi dan misi, serta keyakinan. Bahwa merekalah yang akan menjamin kehidupan ini menjadi beres. Yang lain akan binasa dan sengsara. Faktanya itulah yang terjadi dari tahun ke-tahun di Aceh...Saya tetap merindukan cahaya islam berkibar di Aceh, negeri yang makmur di bawah lindungan Allah, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafĂ»r.

Wallahu a'lam 

Sunday, June 12, 2016

Islam dan Politik...?

Kalau ada Pemda sampai berani mengeluarkan aturan melarang berdagang di bulan ramadhan maka itu sebetulnya bukanlah keputusan sederhana. Mereka punya dasar pijakan atau dalil untuk sampai membuat aturan dalam bentuk PERDA. Dalil itu dasarnya adalah qiyas. Apa itu ? dalam ilmu fiqih disebut dengan sadd adz-dzari’ah  yang artinya larangan melakukan sesuatu yang akan berdampak rusaknya iman atau tergelincir orang melakukan maksiat. Contoh berdagang makanan itu tidak dilarang. Karena berdagang adalah bagian dari ibadah itu sendiri. Namun karena di lakukan di bulan ramadhan akan berdampak merusak iman orang yang sedang berpuasa maka di laranglah berdagang itu. Atau bisa juga contoh air mengalir ke salah satu sawah tetangga. Pihak tetangga lain merasa tidak mau air itu mengalir karena merasa aliran air itu miliknya. Maka agar jangann sampai si tetangga mendapat dosa karena mengambil air orang lain maka di buatlah ketentuan agar air itu di hentikan mengalir ketempat tetangga. Padahal air itu milik Allah dan tidak ada siapapun berhak melarangnya mengalir kemana dia pergi. Contoh lain ada seorang wanita yang diceraikan oleh suaminya. Maka selama masa iddah wanita itu di larang memakai perhiasan dan berhias agar nampak cantik. Maksudnya agar tidak membuat pria lain menggodanya. Padahal bersolek tidak di larang bagi wanita ,apalagi dia sudah bercerai..

Di lihat dari aspek aplikasinya, sadd adz-dzari’ah merupakan salah satu metode pengambilan keputusan hukum (istinbath al-hukm) dalam Islam dan salah satu sumber hukum. Namun tidak semua ulama sepakat dengan sadd adz-dzari’ah sebagai metode dalam menetapkan hukum. Mengapa ? . Konsep sadd adz-dzari’ah tidak bisa berfungsi untuk menetapkan boleh atau tidak boleh sesuatu. Pelarangan atau pembolehan hanya bisa ditetapkan berdasarkan nash  dan ijma’ (qath’i). Sesuatu yang telah jelas diharamkan oleh nash tidak bisa berubah menjadi dihalalkan kecuali dengan nash lain yang jelas atau ijma’. Hukum harus ditetapkan berdasarkan keyakinan yang kuat dari nash yang jelas atau ijma’. Hukum tidak bisa didasarkan oleh dugaan semata dengan dasar paranoid.  Karena keimanan orang tidak ada urusan dengan orang lain, dan tidak ada urusan dengan lingkungannya. Keimanan itu hidayah dari Allah. Setelah keimanan bersemayam di hati , apakah setelah itu tetap kokoh ? tidak! Karena ada proses ujian yang harus di lalui agar iman itu tetap kokoh.  Tidak bisa dikatakan orang beriman tanpa di uji. Itu sudah platform dari Allah. Bukan tidak mungkin orang yang sangat taat dalam keimanan dalam waktu singkat dapat menjadi ingkar. Allah berhak membalok balikan hati manusia dan Allah lebih tahu mengapa dan kapan hati itu akan di bolak balik.

Lantas mengapa sadd adz-dzari’ah menjadi dasar menetapkan dalil salah atau tidak salah ? Paham ini di anut kuat oleh wahabi. Aplikasinya sudah menjadi grand design untuk menggiring agama dalam wilayah politik. Awalnya sadd adz-dzari’ah diterapkan dalam hukum syariah dalam bentuk symbol symbol agama. Kemudian bila ini sudah menjadi kepatuhan orang banyak atas dasar pembenaran maka mereka akan masuk lebih luas lagi “ hanya Negara islam berdasarkan Al quran dan hadith yang bisa memastikan manusia tetap dalam keimanan. Membangun khilafah islam adalah keniscayaan dalam prinsip al`amru bil-ma'ruf wannahyu'anil-mun'kar. Benarkah khilafah akan membuat orang semua baik dan khilafah akan membuat orang berdamai dengan system kekuasaan ? Dari buku " Kebenaran Yang Hilang" di terbitkan oleh Badan Litbang dan Diklat Departemen Agama yang di tulis oleh Farag Fouda, dengan kata pengantar Samsu Rizal Panggabean kita akan mengerutkan kening betapa mengerikan ketika agama di tunggangi oleh nafsu kekuasaan.

Tersebutlah dalam buku Fouda di saat kejatuhan Usman bin Affan, khalifah ke-3. Sahabat Rasul yang diangkat ke kedudukan pemimpin umat pada tahun 644 itu–melalui sebuah musyawarah terbatas antara lima orang–berakhir kekuasaannya 12 tahun kemudian. Ia dibunuh. Para pembunuhnya bukan orang Majusi, bukan pula orang yang murtad, tapi orang Islam sendiri yang bersepakat memberontak. Mereka tak sekadar membunuh Usman. Menurut sejarawan al-Thabari, jenazahnya terpaksa “bertahan dua malam karena tidak dapat dikuburkan”. Ketika mayat itu disemayamkan, tak ada orang yang bersembahyang untuknya. Siapa saja dilarang menyalatinya. Jasad orang tua berumur 83 itu bahkan diludahi dan salah satu persendiannya dipatahkan. Karena tak dapat dikuburkan di pemakaman Islam, khalifah ke-3 itu dimakamkan di Hisy Kaukab, wilayah pekuburan Yahudi.

Tampak, ada dinamika lain yang mungkin tak pernah diperkirakan ketika Islam bertaut dengan kekuasaan. Dinamika itu mencari jalan dalam kegelapan tapi dengan rasa cemas yang sangat. Orang memakai dalih agama untuk mempertahankan takhta atau untuk menjatuhkan si penguasa, tapi sebenarnya mereka tahu: tak ada jalan yang jelas, apalagi suci. Pada tahun 661, setelah lima tahun memimpin, Ali dibunuh dengan pedang beracun oleh seorang pengikutnya yang kecewa, Ibnu Muljam. Khalifah ke-4 itu wafat setelah dua hari kesakitan. Pembunuhnya ditangkap. Sebagai hukuman, tangan dan kaki orang ini dipenggal, matanya dicungkil, dan lidahnya dipotong. Mayatnya dibakar. Ketika pada abad ke-8 khilafah jatuh ke tangan wangsa Abbasiyah, yang pertama kali muncul al-Saffah, “Si Jagal”. Di mimbar ia mengaum, “Allah telah mengembalikan hak kami.” Tapi tentu saja ia tahu Tuhan tak pernah menghampirinya. Maka ia ingin tak ada lubang dalam keyakinannya sendiri (juga keyakinan orang lain) tentang kebenaran kekuasaannya. Al-Saffah pun mendekritkan: para petugas harus memburu lawan politik sang khalif sampai ke kuburan. Makam pun dibongkar. Ketika ditemukan satu jenazah yang agak utuh, mayat itu pun didera, disalib, dibakar. Musuh yang telah mati masih terasa belum mutlak mati. Musuh yang hidup, apa lagi….

Semoga para pemimpin kita dan tokoh agama paham soal fenomena yang terjadi sekarang ini bagaimana agama terus di dengungkan di pentas politik. Cara ini tak lebih hanya politik, agama hanya dalih belaka. Karena jarang terdengar bagaimana kekuatan agama di gunakan untuk mengangkat kaum miskin di kantong kantong kemiskinan agar mereka bisa bangkit berdasarkan symbol agama untuk keluar dari kubangan kemiskinan melalui kemandirian. Seharusnya agama menuntun kepada bagaimana ulama hebat yang celebritis lebih banyak waktunya di daerah kumuh daripada di panggung berkelas kaum berada yang lebih banyak sadar daripada lupa. Gerakan cinta berdakwah harus menjadi platform kepada siapapun. Sehingga membuat yang jauh mendekat dan yang dekat merapat. Yang kaya mau berbagi dan yang miskin mau bangkit lewat kerja keras dalam kesabaran, yang berilmu berbagi tanpa pamrih. Bukankah agama itu bagaikan elang yang terbang tinggi dengan spiritualnya dan membumi bagaikan induk ayam yang tangguh melewati sunattulah untuk menghidupi dirinya , keluarga dan lingkungan atas dasar cinta dan kasih sayang….dengan begitu bila kekuasaan itu datang maka itu memang sunattulah...

Saturday, June 11, 2016

Ahok dan Jokowi..


Ketika terjadi pertentangan keras antara keluarga Bani Abbas yang berkuasa dengan Bani Al bin Abi Thalip, semua orang harus membenci keluarga Ali Bin Abi Thalip demi memuaskan sang penguasa. Tapi Imam Syafii yang sedang berada di Yaman sebagai guru agama, dengan tegas mengatakan beliau mencintai keluarga Ali Bin Abi Thalip sebagimana beliau mencintai Rasul. Karena sikapnya itu beliau difitnah sebagai musuh negara. Beliau ditangkap. Dari Yaman beliau dibawa ke Baghdad dalam keadaan kaki dan tangannya dirantai. Murid pengikutinya sebanyak 9 orang dihukum pancung. Namun Imam Safii pada akhirnya dibebaskan dari hukuman karena tidak terbukti beliau berencana untuk makar kecuali memegang teguh prinsipnya mencintai keluarga Rasul.

Ketika  Khalifah Al Ma’mun mengadakan dokrinisasi kepada para ulama dengan mengatakan bahwa AL Quran itu adalah makhluk  dan harus diterima ini sebagai paham. Sama seperti sekarang penguasa yang memaksakan paham secular untuk menggantikan paham agama. Tapi Imam Hambali tidak mau tunduk kepada dokrin itu. Bagi beliau AL Quran adalah kalamullah , dengan tidak membawa manusia membicarakan apakah dia makhluk atau qadim. Filsafat jangan dicampur adukan dengan aqidah agama. Akibatnya beliau dimasukan kedalam penjara dengan tuduhan tidak taat  pada dokrin khalifah. Didalam penjara beliu dipaksa untuk tunduk. Disiksa dengan cemeti hingga mengalir darah disetiap tubuhnya. Namun beliau tidak pernah di kalahkan walau dalam keadaan kalah dihadapan penguasa.

Ketika Abu Bakar Bashir di tuduh di balik aksi teror, di pengadilan tidak satupun bukti dia terlibat kecuali di kait kaitkan oleh jaksa penuntut. Andaikan ABB mau merubah sikapnya terhadap keyakinannya beragama bahwa tegaknya syariah Islam adalah harga mati , tentu dia bisa bebas. Tapi dalam pembelaan pribadinya di hadapan majelis hakim dengan tegas dia mengatakan tak  akan merubah keyakinannya. Diapun di penjara seumur hidup. Nyoto yang tadinya di kenal sebagai tokoh PKI dan tersingkir dari elite PKI karena berbeda paham dengan Aidit, namun ketika di Mahmilub Militer walau dia bukan lagi elite PKI namun dia tetap membela sahabatnya. Dia gigih membela teman temannya dan akhirnya dia harus menerima hukuman mati. " Daun daun kering berguguran, untuk menumbuhkan daun daun muda yang segar. “ Sepenggal syair yang dibacakan oleh Nyoto  ketika menjemput hukuman mati dihadapan Mahmilub. Dia tersenyum menerima maut.

Para iman dan ulama , juga tokoh Politik yang berjuang untuk nilai agama dan idiologi sangat sadar pilihan hidupnya. Mereka tidak pragmatis. Mereka istiqamah tanpa ada rasa takut. Hidup mereka di wakafkan untuk nilai-nilai yang di perjuangkanya tanpa sedikitpun mereka menjual dirinya untuk kesenangan dunia, apalagi berkompromi demi keselamatan hidupnya. Setiap orang dimanapun posisinya haruslah punya pilihan hidup yang harus dia perjuangkan. Niat baik dari sikap hidup akan menuntunnya melihat dari tabir kegelapan. Sehingga menuntunnya untuk tetap konsisten tanpa rasa takut dan tidak terpancing menjual jiwanya untuk yang bukan di yakininya. Mungkin Ahok dan Jokowi bernasip lebih baik di bandingkan mereka yang berjuang dengan idealismenya di luar kekuasaan yang dengan mudah di kalahkan. Dengan kekuasaan di tangan, Ahok dan Jokowi menjadi corong kebenaran dari dalam kekuasaan, dan mereka konsisten memperjuangkan agendanya. Walau kita lihat para elite sibuk mengejar uang, jual-beli pengaruh, lewat lobi dan media, untuk menentukan siapa yang pantas duduk sebagai gubernur dan presiden. Apa yang salah dan patut disalahkan. Namun mereka berdua tetap dengan sikapnya tanpa ada rasa sangsi atau mungkin karena itu kekuasaan lepas.

Mengapa ? Politik, seperti halnya di ketahui adalah tragedi, tak akan punya arti tanpa kesangsian. Sebab kita membaca sejarah bagaimana kekuasaan meringkus semuanya. Apa yang istimewa dalam kekuasaan? Mengapa segala cara dikorbankan untuk mendapatkannya mempertahankannya? Akhirnya ada yang lebih destruktif ketimbang pembunuhan—yakni sejenis nihilisme, yang menegaskan bahwa kita tak perlu sangsi karena kita tak perlu nilai-nilai. Tak ada dorongan yang gigih untuk mempertahankan apa yang baik. Memang sulit mencapai keadilan dan sekaligus kebenaran yang di yakini. Bagi Ahok dan Jokowi berada di dalam kekuasaan maupun di luar adalah tidak mudah. Dihadapan system akan selalu keadilan itu subjectif sebagaimana kebenaran itu sendiri. Tidak akan pernah ada system yang sempurna, walau dengan tegas bahwa kebijakan penguasa tidak bisa di adili kecuali dia memperkaya diri karena kekuasaannya. ini semua scenario Allah untuk menguji manusia yang beriman agar tetap istiqamah dengan piliihan hidup yang di yakininya. Soal salah atau benar maka nanti di yaumul hisab setiap orang harus mempertanggung jawabkannya di hadapan Tuhan. Tuhan lah sebaik baiknya hakim.

Karenanya kita tidak bisa dengan mudah mengadili sejarah mengapa sultan dari Bani Abbas harus menghukum iman safie dengan begitu keras padahal hanya soal beda keyakinan. Begitupula halnya dengan Khalifah Al Ma’mun yang tak bisa menerima dokrinnya di tolak oleh seorang ulama sekelas imam Hambali sekalipun. Begitu juga rezim reformasi tidak bisa menerima sikap dan keyakinan Abu Bakar Baasir terhadap system yang ada di Negara ini. Mungkin demokrasi adalah mengakui perbedaan namun perbedaan selalu yang menang adalah persepsi dari penguasa. Itulah sebabnya Nyoto sadar ketika PKI kalah maka persepsi dirinya terhadap PKI tidak perlu lagi dia perjuangkan tapi dia sendiri tidak mau di kalahkan dengan keadaan. Tapi kita bisa maklum bahwa kekuasaan memang punya cara sendiri untuk memaksa siapapun harus kalah. Namun kita di cerahkan oleh sebuah harapan dari sikap Jokowi dan Ahok bahwa perbedaan itu adalah keniscayaan, dan kekuasaan tidak selalu buruk dan tidak perlu ada tragedi selagi di jalankan dengan niat baik dan konsisten karena Tuhan.

Thursday, June 9, 2016

Mereka yang pragmatis


Di Jakarta, kalau saya ingin minum secangkir hot capucino di Starbucks maka tak selalu tersedia korsi yang kosong. Hampir semua outlet Starbucks selalu ramai dikunjungi konsumen. Padahal harga secangkir kopi  Rp. 37,000 atau setara dengan USD 4. Itu sama juga dengan dua kali penghasilan sehari orang yang dikatagorikan miskin oleh BPS yang berjumlah 123 juta orang di Republik ini. Kalau anda pergi ke kawasan kota dalam kota seperti Kelapa Gading, BSD, Modern Land, Lippo dan lain lain maka anda akan temui mereka tinggal dan beraktifitas. Lingkungan yang nyaman, tertip dan aman. Belum lagi tingkat disiplin yang tinggi karena system lingkungan yang tertata rapi, yang sehingga selalu bersih dari sampah yang menusuk hidung. Ketika duduk santai sambil menikmati secangkir kopi maka saya perhatikan para pengunjung sebagian asyik dengan Note book, Tablet, Iphone Tentu mereka sedang berinteraksi dengan pihak lain melalui device communication nya yang terhubung dengan WIFI.  Melihat suasana di Starbucks , saya merasa berada di Orchard Singapore atau di Causeway Bay Hong Kong atau di CItic Plaza Shenzhen. Mereka adalah kelompok kelas menengah Indonesia yang jumlahnya sejak sepuluh tahun belakangan ini bertambah dua kali lipat.

Pada 1999 kelompok kelas menengah baru 25 persen atau 45 juta jiwa, namun satu dekade kemudian melonjak jadi 42,7 persen atau 93 juta jiwa. Sedangkan jumlah kelompok miskin berkurang dari 171 juta jiwa menjadi 123 juta jiwa. Data itu direkam dari survei sosial ekonomi nasional  yang dilakukan oleh Biro Pusat Statistik pada 1999 dan 2009 . Cara  membedakan kelompok miskin dan kelas menengah dengan memilah jumlah pengeluaran individu per hari. Yang dimaksud kelompok miskin adalah penduduk dengan pengeluaran di bawah US$2 per hari.  Sedangkan, pengeluaran US$2 ke atas atas tergolong kelas menengah yang dikelompokkan dalam sejumlah kategori.  Kategorinya sebagai berikut. Kelas menengah bawah adalah mereka yang pengeluarannya sejumlah US$2-4 per hari, menengah-tengah US$4-10, menengah-atas US$10-20, dan kelompok berkecukupan dengan pengeluaran US$20 per hari. Berdasarkan data itu, jika diperinci lebih jauh, selama sepuluh tahun, kelompok menengah-bawah telah naik dua kali lipat dari 37 juta menjadi 69 juta jiwa. Kelompok menengah-tengah meningkat hampir tiga kali lipat ,dari 7,5 juta menjadi 22 juta jiwa. Kelompok menengah-atas naik lima kali lipat dari 0,4 juta menjadi 2,23 juta jiwa. Sedangkan, kelompok berkecukupan naik 0,1 juta menjadi 0,37 juta jiwa.

Saya tidak tahu  apakah data tersebut valid ? . Namun yang saya tahu pasti memang kelompok menengah bertambah seiring meningkatnya APBN yang kini telah tembus Rp. 1000 triliun. Lantas bagaimana bisa tumbuhnya kelompok menengah ini? Apakah dikarenakan daya dukung produksi nasional memang meningkat ?  Menurut saya, ini bukan didasarkan kepada meningkatnya produksi riil yang berbasis SDM dan creativitas tekhnology tapi lebih dipicu oleh naiknya harga komoditas yang berhubungan dengan Sumber Daya Alam, seperti minyak, CPO, Coal, Coklat, dll. Kenaikan harga komoditas ini menguntungkan kelompok menengah yang terlibat didalamnya. Mereka adalah para professional, pedagang, Karyawan, buruh , PNS , politisi dan lain sebagainya. Ditambah lagi, business turunan dari kenaikan harga komoditas itu berkembang pesat dalam maraknya pasar domestik yang umumnya berbasis produk import. Penjualan mobil , Perumahan , barang elektronik meningkat pesat. Pelanggan telp selular juga meningkat pesat bahkan Indonesia merupakan pelanggan selular nomor tiga terbersar di dunia. Dari keadaan inilah ekonomi Indonesia tumbuh pesat dan juga menjadi penyelamat ditengah krisis global dewasa ini.

Menurut pengamat , kelompok menengah Indonesia bukanlah kelompok militan. Mereka sangat pragmatis dan gemar menjadi follower apa saja. Mereka dikenal Mat Nyinyir yang hanya pandai berbicara tak jelas lewat facebook , twitter dan lain sebagainya dan setelah itu mereka lupa apa yang dikatakannya. Ketika harga komoditas turun dan ekspor juga menurun maka kelompok menengah inipula yang paling banyak mengeluh. Tak sedikit yang menyalahkan pemerintah. Tadinya ketika Amerika , Eropa Barat dan Jepang memanjakan Negara dengan hutang dan investasi, tak ada gaung nasionalisme. Bahkan bagi mereka bekerja di perusahaan asing adalah kebanggaan. Lulusan universitas terbaik berlomba lomba bekerja dengan asing. Kini ketika orientasi pembangunan dari konsumei ke produksi di canangkan dan business non-tradable di pangkas, maka mulai bangkit nasionalisme dan paranoid asing atau aseng. Bahkan ada yang bernostalgia untuk kembali ke era Orde Baru. Namun banyak pula yang tetap sadar untuk tetap berpikir positip. Contoh lahirnya gerakan Teman Ahok adalah kesadaran kelompok menengah yang ingin tegaknya keadilan sosial yang di kelola dengan cara modern dan transfarance. Walau masih ada sebagian mereka rentan, pragmatis namun tetap sebagai potensi besar untuk lahirnya Indonesia baru yang kokoh dan berdaulat dinegerinya sendiri tanpa harus menjadi konsumen produk asing.

Caranya , pemerintah harus menyediakan infrastruktur ekonomi secara meluas dengan memanfaatkan kekuatan dana yang berputar dikelompok menengah dan pada waktu bersamaan mulai memberikan kebijakan mendorong produksi dalam negeri. Kehebatan kelompok menengah yang akhirnya menjadi locomotive pertumbuhan ekonomi berkelanjutan telah dibuktikan oleh China, Korea, Taiwan, Jepang dan Malaysia. Inilah tantangan dan sekaligus resiko politik dibalik peluang kebijakan pro-produksi Jokowi. Karena apabila pemerintah tidak bisa memanfaatkan kekuatan kelompok menengah ini maka sedikit saja ada goncang ekonomi makro , mereka akan jatuh miskin , tak ubahnya seperti yang terjadi di AS. Karena tipical kelompok menengah yang rentan , pragmatis ,  mereka mudah frustrasi untuk bergabung bersama mereka yang sudah lebih dulu terpuruk dalam kemiskinan. Harap dimaklumi bahwa kelompok menengah yang frustrasi bagaikan bensin yang mudah dibakar dan menyeret kelompok bawah untuk melahirkan chaos. Revolusi social akan terjadi secara massive.  maka yang terjadi , terjadilah...

Saturday, June 4, 2016

Mengingatkan yang lupa..


Korban pemberontakan PKI
di Madiun 1948,Ulama di bunuh
Suatu pagi 17 agustus 1945, ketika usai memproklamirkan kemerdekaan di kediaman Soekarno Jalan Pegangsaan Timur, Soekarno berkata kepada segelintir orang yang hadir, " Saudara saudara sekalian, dengan demikian kita telah merdeka " suara Soekarno terkesan lambat. Bukan karena dia tidak bersemangat memproklamirkan kemerdekaan tapi karena memang ketika itu Soekarno sedang sakit malaria. Seusai mengatakan itu Soekarno langsung masuk ke kamar tidurnya. Tidak ada dialog dan diskusi setelah itu. Semua hadirin pergi secara diam diam. Maklum ketika itu kekuasaan masih di bawah kendali Jepang. Namun semua yang hadir ketika proklamasi itu di ikrarkan , sadar bahwa pada saat itu revolusi telah di mulai. Selanjutnya apa? Ada tiga kelompok yang telah lama saling mengintai yaitu Islam dan Komunis di satu sisi dan Nasionalisme dan tentara di sisi lain. Setelah proses mempertahankan apa yang di proklamirkan dengan darah dan nyawa, akhirnya Indonesia berhasil mengusir rezim kolonial Belanda. Selanjutnya terjadi kekosongan. PKI di bawah Muso melakukan kudeta di tahun 1948. Namun berhasil di gagalkan oleh TNI. Luka sejarah itu selalu membekas karena PKI tidak mengganyang nasionalis tapi para tokoh agama Islam.

Sejak saat itu antara PKI dan Islam selalu saling berhadapan dan saling mengincar untuk memusnahkan. Politik untuk ketulusan oleh para pendiri negara mulai tergredasi. Yang ada adalah politik untuk kekuasaan. Makanya Soekarno tidak begitu merasa bersalah ketika membubarkan konstituante di tahun 1959 yang ingin merubah UUD45. Padahal pemilu 1955 merupakan pemilu paling demokratis yang pernah ada di Indonesia. Soekarno mencanangkan kembali ke UUD45 namun membungkusnya dengan manifesto politik Nasionalis , Agama dan komunis ( NASAKOM) dalam satu barisan demokrasi terpimpin. Amerika CS mulai bersikap bermusuhan dengan Soekarno yang semakin kuat kekuasaannya. Apalagi Soekarno dikukuhkan sebagai Presiden seumur hidup. Demokrasi mati!. Barisan Islam moderat meradang melihat cara Soekarno berpolitik. Mana mungkin agama dan komunis bersatu. Itu sama saja menyatukan minyak dengan air. Maklum, walau Islam dan komunis punya platform perjuangan yang sama namun metode  berbeda sekali. Namun luka sejarah tak pernah lupa bahwa PKI pernah menggorok leher kiayai demi rencana merebut kekuasaan. Tahun 1958 - 1961, kelompok Islam moderat melakukan pemberontakan yang dikenal dengan PRRI. Pemberontakan ini di dukung oleh Amerika dalam konteks perang dingin, antara Komunisme ( Pakta Warsawa ) dan Amerika ( NATO).  Namun TNI dan PKI tetap di barisan Soekarno sehingga pemberontakan PRRI mudah di hancurkan. Tokoh PRRI masuk penjara.

Pendukung PKI di bantai,
Aksi balas dendam1965
Ketika PKI semakin mesra dengan Soekarno , Amerika tidak lagi memakai politik merangkul Islam untuk menjatuhkan Soekarno. Kegagalan PRRI sudah cukup membuktikan politik Islam tidak pernah solid. Tapi mendekati TNI yang merasa jadi anak tiri Soekarno. Design strategi menjatuhkan Soekarno melalui pembinaan perwira muda TNI sambil memprovokasi umat Islam bahwa PKI anti Tuhan,  di laksanakan melalui operasi CIA dan luka sejarah 1948 terus di ingatkan kedalam pikiran umat islam. Entah bagaimana hingga meletus G30S PKI dan ini menjadi pemicu terjadinya bentrokan horisontal antara Komunis dan Umat Islam dengan TNI di belakang Islam. Ratusan ribu massa PKI di bunuh, darah kembali mengenak sungai di bumi pertiwi. Balas dendam terjadi dan akhirnya PKI di nyatakan partai terlarang. Soekarno Jatuh. Elite PKI di hukum mati dan di Penjara seumur hidup. Soeharto berkuasa namun sesungguhnya yang berkuasa adalah Amerika dan Sekutunya. SDA Indonesia di kuasai ( lihat gambar disamping). Secara politik di rantai dengan skema hutang luar negeri. Untuk itu di perlukan stabilitas keamanan dan politik agar stabilitas ekonomi terjaga. Karenanya barisan agama, nasionalis, sosialis di rantai dengan politik azas tunggal Pancasila. Yang berseberangan di gebuk dan di penjarakan. Kelompok Islam yang coba berontak di bedil oleh tentara. Operasi militer di berlakukan di wilayah konflik dengan membuang HAM ke tong sampah.  Soeharto berkuasa idiologi mati dan agama di kebiri. DPR hanya di isi oleh politikus berwajah kardus yang hanya bertugas berkata " setuju". Demokrasi mati! 

Peta SDA yang  di kuasai Amerika 
32 Tahun Soeharto berkuasa , pembangkang di cekal dan di penjara , ada juga yang di bunuh lewat operasi militer. Kutbah Jumat di sensor dan pengajian umum di larang. Namun KKN tumbuh subur yang memanjakan TNI dan elite politik kardus serta para kroni yang dekat dengan Cendana. 90% SDA di kuasai Amerika Cs. Ketika Perang dingin usai dan Soeharto mulai tidak di manjakan Amerika, Soeharto kembali ke nostalgia tahun 1965 dimana dia tertolong dengan dukungan Islam. Soeharto merangkul intelektual Islam dan ICMI di bentuk. Ketika kabinet di isi oleh orang ICMI. Amerika tidak bisa menerima perubahan sikap politik Soeharto yag ke kanan. Kembali Amerika menggunakan perwira TNI dan barisan Islam yang sakit hati untuk memprovokasi pendukung Soeharto berkiblat dengan kelompok reformis. Dan dengan satu ledakan shock banking lewat operasi hedge fund Soros, ekonomi yang hendak tinggal landas langsung nyengsep ke tanah. Soeharto jatuh. Rezim reformasi bangkit. Kembali Amerika menang. Platform politik di rubah dengan adanya amandemen UUD 45. Era Demokrasi liberal terjadi dan neoliberal mendapat tempat. TNI masuk barak. Politisi dapat singgasana. Apa yang diharapkan Amerika tak lain lahirnya rezim politik pragmatis. Suara rakyat suara Tuhan namun karena inilah neocolonialisme terjadi melalui rezim reformis yang pro-pasar bebas.

Namun setelah rezim reformis tampil lebih 15 tahun, hal yang tak pernah di perhitungkan Amerika adalah tampilnya si tukang kayu yang bukan elite partai sebagai Presiden melalui pemilu langsung. Jokowi nama Presiden itu. Ia tidak mau menjadi boneka Amerika CS. Ia ingin berteman dengan siapapun namun dengan prinsip kepentingan nasional diatas segala galanya. Kepentingan nasional itu di tuangkan dengan agenda Nawacita. Amerika meradang karena Indonesia bukan lagi hak eklusifitas politik untuk menguasai SDA. Indonesia menjadi terbuka bagi siapa saja,termasuk dengan China yang kini menjadi kekuatan ekonomi dunia. Kembali Amerika melancarkan design lama yaitu merangkul Islam dan barisan TNI yang sakit hati. Kepada golongan Islam , Amerika meniupkan impian negeri surga di bawah bendera Khilafah Islam dan ancaman PKI yang anti Tuhan. Kepada TNI barisan sakit hati, di tiupkan sorga 32 tahun rezim Soeharto berkuasa. Jadi antara barisan TNI sakit hati dengan barisan Islam bersatu melawan Jokowi namun dengan impian berbeda. Mereka tidak akan mungkin bersatu bila berhasil menang.  Siapapun yang bekuasa akan menzalimi yang lain, karena yang menang sesungguhnya adalah Amerika CS dengan agenda keunggulan terhadap China dalam perebutan pengaruh di Asia Pacific dan memenangkan konplik laut China selatan

Sejarah di baca dengan cermat oleh Jokowi dan para elite yang kini berkuasa termasuk TNI. Bahwa ancaman idiologi apapun termasuk agama untuk melakukan revolusi tidak akan pernah terjadi lagi selagi rakyat di cerdaskan dengan saluran demokrasi di buka lebar dan pembangunan indonesia centris berjalan efektif khususnya di wilayah yang selama ini di pinggirkan, serta pembrantasan korupsi terus di efektifkan. Ancaman dari segelintir orang yang terpengaruh dengan  provokasi media yang dibiayai oleh Amerika CS tidak akan efektif kecuali hanya untuk segelintir orang yang masih suka bernostalgia tentang masa lalu yang bau amis darah demi sebuah kekuasaan. Jokowi akan baik baik saja karena lebih banyak orang waras daripada yang irasional dalam berpolitik dan menyikapi perubahan yang ada kini...

Thursday, June 2, 2016

Republik Rakyat


Ketika terjadi perdebatan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( BPUPKI), tentang seperti apa negara yang akan di dirikan.Sebetulnya jepang sebagai sponsor terbentuknya BPUPKI menginginkan agar Indonesia didirikan seperti jepang , yaitu negara kerajaan. Tapi Soekarno dan Hatta yang terlibat langsung dalam diskusi dengan penguasa jepang di indonesia ketika itu menolak dengan tegas. Mereka tidak ingin negara kerajaan. Usai pertemuan itu Soekarno berkata kepada Hatta, saya tidak akan sanggup mengemban amanah yang besar ini. Namun Hatta sebagai sahabat seperjuangan Soekarno meyakinkanya " Kalau bung tidak bersedia maka akan selalu ada orang lain yang akan melakukannya. Tidak perlu ragu ambil kesempatan ini. " Soekarno masih berat untuk menentukan sikapnya. Itu sebabnya dalam rapat BPUPKI, Soekarno tidak menentukan seperti apa negara akan dibentuk. Dalam pidato pembukaaan sidang pertama BPUPKI,,Soekarno hanya menyampaikan visi nya terhadap negeri yang akan didirikan.Dimana negara Indonesia yang akan didirikan haruslah punya visi nasionalisme, demokrasi dan sosialisme.

Namun rapat meraton itu tidak menemukan kata satu. Utusan agama Islam mengotot agar negara yang akan didirikan sesuai dengan syariat islam.Namun pihak agama lain menolak. Belum lagi soal etnis, utusan Kalimantan mempertanyakan " apa kepentingan kami harus bersatu dengan orang jawa? Utusan aceh pun bertanya " mengapa kami harus bersatu dengan orang jawa? kami aman aman saja tanpa adanya Indonesia". Belum lagi masing masing daerah meragukan negara yang akan didirikan nanti hanyalah kepanjangan tangan dari kolonialisme atas nama negara. Sampai akhirnya Soekarno dengan suara lirih berkata kepada semua hadirin " Jika benar semua ini harus diselesaikan lebih dahulu, sampai rumit, maka saya tidak akan mengalami indonesia merdeka, tuan-tuan tidak akan mengalami indonesia merdeka, dan kita semua tidak akan mengalami Indonesia merdeka sampai keliang kubur " semua terdiam. Bayang bayang perpecahan ada di pelupuk mata.

Kemudian Agus Salim tampil berbicara. Semua hadiran mendengar dengan seksama. Karena  Agus Salim di kenal sebagai orang yang di tuakan , cerdas, serta sangat religius. Sikap bijak dan rendah hatinya mampu membuat siapapun menghormatinya. Agus Salim bertanya kepada hadirin, 

"Mengapa kita harus bersatu ? 

Semua hadirin terdiam saling pandang.

Agus Saling menjawab sendiri "Kita bersatu karena Tuhan. Semua kita sepakat kalaulah bukan karena Tuhan tentu kita tidak ingin menyabung nyawa untuk kemerdekaan. " Semua hadirin menganguk. Mereka tidak berbeda pendapat soal ini. "Nah kalau begitu, negara yang akan didirikan ini adalah negara yang didasarkan kepada Ketuhanan. Seperti apakah Tuhan itu ? Bukan satu , bukan banyak tapi ESA. Ia bisa satu , bisa juga lain. Tak penting , karena hanya Allah yang tahu ujudnya. Jadi kita tetapkan  Ketuhanan Yang Maha Esa."

Salah satu peserta bertanya " Kalau negara di dirikan karena Tuhan yang maha ESA,maka negara itu harus menjamin kemanusiaan yang adil. " 

Agus salim mengangguk.

Namun salah satu anggota menambahkan, " Adil yang bukan dasarnya subjective tapi atas dasar akhlak. Apa itu ? Ya beradab. Jadi seharusnya kemanusiaan yang adil dan beradab. "

Semua sepakat.

Nah..."lanjut Agus Salim." Karena Tuhan,  negara didirikan dan dilaksanakan atas dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah kita sepakat untuk bersatu ? siapkah kita bersatu ? Semua setuju. Maka ditetapkanlah Persatuan indonesia. Ini bukanlah paham nasionalisme seperti yang disampaikan Soekarno. Tapi bersatu karena Tuhan, bukan karena idiologisme darimanapun sumbernya.

Hatta bertanya " Bila kita sepakat bersatu,maka seperti apa bentuk negara yang akan didirikan nanti ?

Salah satu peserta menjawab bahwa "Itu bukan negara kerajaan, bukan kesultanan , bukan khilafah, bukan pula republik seperti negara lainnya. "

" jadi seperti apa negara itu ? Kejar Hatta.

"Bentuk negara itu adalah negara kerakyatan" jawab peserta.

"Siapa yang memimpin ?

" Mereka yang berilmu."

" Apakah cukup yang berilmu ? bagaimana bila dia zolim?

" Tentu dia harus bijaksana."

" Bagaimana proses pengambilan keputusan dalam kepemimpinan itu. Bukankah kita tidak sepakat negara kerajaan ?

" Dalam bentuk musyawarah."

" Siapa yang boleh ikut bermusyawarah itu ?

"Mereka yang menjadi wakil rakyat ,golongan dan agama."

'Baiklah kalau begitu maka kita sepakat mendirikan negara bentuknya adalah kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat dan kebijaksanan dalam permusyawaratan perwakilan."

Semua hadirin sepakat.

"Lantas apa tujuan negara didirikan ? tanya Hatta.

" Karena dasarnya adalah Tuhan maka tujuannya adalah keadilan."

"Adil itu hanya milik Allah. Kita manusia tidak akan mampu mencapai keadilan itu walau seberapa keras kita ingin mencapainya. Adil apa ? " Kata Agus Salim.

" Keadilan sosial. Artinya keadilan yang sesuai dengan fitrah masing masing orang perorang"Kata Hatta.

" Baiklah kalau begitu akan dirikan negara dengan tujuan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia."

Semua sepakat. Soekarno sebagai pemimpinan rapat menyampaikan ringkasan hasil rapat yang terkenal dengan sebutan Pancasila.

Suasana rapat ketika itu sangat sejuk. Mereka para pendiri negara berdebat dengan cerdas dan didorong oleh cinta dan kasih sayang. Namun setelah falsafah negara ditentukan maka piagam jakarta dibuat dan kelompok islam menambahkan kalimat "melaksanakan syariat islam bagi yang memeluk agama islam.Para peserta tidak begitu pusing soal tambahan kalimat itu dan juga engga pusing ketika disodorkan konsep UUD 45 Prof. Mr. Dr. Soepomo dan indonesia disebut Republik. Karena semua sepakat bahwa UUD 45 akan dirubah bila keadaan negara sudah aman dan mendapatkan pengakuan penuh. Kalaulah mengikuti Pancasila maka negara indonesia berbentuk REPUBLIK RAKYAT.

Ini hanyalah kisah imaginer dari penoropongan batin saya aja..he he he..

Wednesday, June 1, 2016

Pemimpin ideal

Bagaimanakah idealnya seorang pemimpin itu ? demikian kata teman kepada saya. Menurut saya, kekuatan seorang pemimpin terletak di tangan kaum yang lemah (dhuafa). Hal ini sesuai dengan hadis Rasulullah Saw, “Hanyalah kamu akan mendapat kemenangan dengan memperhatikan nasib kaum yang lemah (dhuafa).” Apabila pemimpin turun  kebawah, melihat kampung-kampung dan desa-desa, berbicara dengan pak tani yang lemah itu, saya yakin dia akan merasa mendapat satu kekuatan baru, kembali dengan harapan yang baru. Pemimpin yang jujur adalah mengutamakan kepentingan rakyat , yang tidak memanfaatkan politik untuk mencari kekayaan. Ia tidak mungkin sempurna namun tidak seharusnya oportunis dan materialis. Agama tidak mendidiknya jatuh miskin karena idealismenya. Karenanya dia sudah selesai dengan dirinya sebelum jadi pemimpin. Tugas pemimpin menjadi inspirasi bagi semua orang melalui kebijakan dan keteladanan agar orang punya keyakinan melewati hidup yang kadang tidak ramah. Bahwa akan selalu ada harapan selagi mau berubah dan bekerja keras. Pemimpin juga haruslah democrat sejati , yang teguh pada pendirian dan menghormati pendirian orang lain. Perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan seyogianya menempuh jalan yang dibenarkan oleh hukum dan moral.  Walau pahit di rasa namun bila karena itu kedamaian terjadi maka ia lebih memilih berserah diri kepada Allah tanpa harus menimbulkan kekerasan.

Ada cerita teman kepala Daerah. Pada waktu blusukan ke kampung kampung seorang diri dia bertemu dengan satu keluarga yang tinggal di rumah gubuk. Ketika dia masuk, rumah itu tidak ada lantai kecuali tikar beralaskan tanah. Tidak ada penyekat ruangan. Dapur dan tempat mandi bersebelahan dengan tempat tidur. Entah mengapa ketika itu sempat berlinang air matanya. Segera dia kembali kekantor untuk memerintahkan SKPD agar meng evaluasi penyaluran revitalisasi rumah kumuh yang anggarannya di sediakan Jokowi melalui Menteri Sosial. Dalam evaluasi ternyata memang penyalurannya terkesan lambat karena banyak hal harus di buktikan sebelum dana di salurkan. Bahwa rumah yang akan di revitalisasi harus rumah sendiri dan berdiri diatas tanah sediri atau telah menempati lebih dari sekian tahun. Atas dasar itu dia berusaha meyakinkan pihak pemerintah pusat agar ketentuan itu dapat di perlunak. Pemerintah pusat setuju namun hanya memberikan bantuan material bangunan , tidak termasuk ongkos kerja.

Diapun meminta tokoh masyarakat yang tinggal di kampung itu agar menggerakan masyarakat bergotong royong membangun rumah bagi keluarga itu. Dia sendiripun terlibat mengimbau agar rakyat yang mampu bergotong royong. Singkat cerita dalam satu bulan telah berdiri rumah mungil untuk keluarga kecil itu. Diapun memberikan ternak agar di pelihara oleh keluarga itu sebagai sumber penghasilan. Maka jadilah rumah sehat bagi keluarga duafa, dan juga mata pencaharian bagi keluarga itu.  Teman itu mengatakan kepada saya bahwa Hal yang paling di takutinya ketika terpilih menjadi pemimpin adalah bila dia gagal atau lalai membela kaum duafa. Dan lebih takut lagi bila dia gagal mengajak masyarakat peduli kepada kaum duafa. Mengapa ?Kekuasaan itu sangat menyulitkan di akhirat kelak karena begitu besar tanggung jawab seorang pemimpin kepada rakyatnya. Sehebat apapun pemimpin berbuat tetap tidak bisa membuat dia membusungkan dada karena tentu banyak hal yang luput dari perhatiannya, dan ini tetap menjadi tanggung jawabnya di hadapan Tuhan.

Dia teringat ketika pertemuan dengan kepala daerah se Indonesia, Jokowi menasehati " Sering seringlah turun kebawah , lihat lapangan, temui rakyat, tegur mereka.Karena mungkin banyak hal telah terencana dengan baik tapi tidak menjamin semua sempurna. Bisa saja ada yang luput diperhatikan. Tugas pemimpin mengingatkan aparat dibawahnya agar tidak pernah lupa dan luput perhatian terhadap tujuan ideal dari semua program pemerintah" Di era Jokowi program revitalisasi kawasan kumuh di anggarkan melalui APBN dan juga melibatkan dana di luar APBN yang diantaranya dana CSR. Kepala daerah sebagai kepanjangan tangan Presiden harus memastikan program ini jalan. Tujuannya agar tanggung jawab membantu kaum duafa bukan hanya gerakan pemerintah tapi juga tanggung jawab masayarakat untuk terlibat aktif membantu. Bukankah tanggung jawab pemimpin bukan hanya membantu langsung tapi juga mengajak masyarakat ambil bagian dalam setiap program bagi kaum duafa. Tidak memanjakan mereka tapi meringankan yang berat mereka pikul, tidak memberi uang tunai tapi memberi kesempatan mereka mendapatkan hasil tanpa harus menadahkan tangan. Karenanya menata lingkungan mereka agar lebih manusiawi merupakan keniscayaan..