Monday, July 22, 2013

Akses Dana

Ketika saya bertemu dengannya, saya sempat terkejut karena usianya masih relative muda. Menurutnya usianya 42 tahun. Penampilannya memang berkelas. Dengan stelan berharga diatas USD 2000 , jam tangan senilai diatas USD 200,000, saya dapat pastikan bahwa dia adalah entrepreneur world class.  Pertemuan saya dengannya diatur oleh teman dari New York. Dalam pertemuan itu tidak ada pembicaraan yang serius. Saya hanya sebagai pendengar yang baik. Mendengar dia yang sedang membentangkan dunianya untuk saya mengerti dan mungkin kagumi. Menurut ceritanya, usahanya terbentang dari Afrika, di selatan Amerika dan juga di Utara ( Amerika Serikat), Asia, Eropa. Bisnisnya meliputi Mining, IT, Power Plant , Industry, Property, Infrastructure dll. Dia menyebut usahanya itu sebagai portfolio business. Berapa nilai portfollionnya ? belum sempat saya bertanya , dengan bangganya dia menyebutkan angka diatas USD 5 Miliar atau diatas Rp. 50 Triliun. Bayangan saya bahwa dia adalah orang yang bekerja keras. Mendapatkan berkah  kepercayaan harta dari Konglomerat Yahudi untuk mengelola dana dalam jumlah tak terbilang. Demikian kesimpulan saya sementara tentang dia. Benarkah ?

Dugaan saya salah karena dia mengatakan bahwa keberhasilannya bukanlah karena berkah dari orang lain. Bukan pula karena dipercaya orang lain. Lantas darimana dia dapatkan uang dalam jumlah besar untuk mengumpulkan portfolio sebanyak itu. Apalagi dalam usia relative muda. Dia exist karena dia mampu “bermain” diatas aturan “main” para pebisnis kapitalis. Setiap peluang business yang didapatnya, sumber pembiayaan didapat melalui financial engineering.  Bagaimana awalnya sehingga dia jadi billionaire? Semua itu berawal tahun 2003 ketika itu dia bekerja diperusahaan consultant di New York yang diberi tugas menganalisa project investasi. Kebetulan salah satu clients nya berasal dari China yang berminat untuk melepas Power Plant kepada pihak investor. Harga power Plant itu senilai USD 1,2 miliar. Kehebatan project ini adalah kemampuan mendatangkan cash flow yang cepat karena dijamin oleh Pemerintah China sebagai off take. Hanya saja harga jual power kepada Pemerintah China tergantung harga pasar dari fuel. Kebetulan fuel dari Power plant itu adalah batu bara. Jadi semakin tinggi harga batu bara dunia semakin tinggi harga jual power( per kwh) kepada Pemerintah China. Karena peluang itu bagus, maka dia berniat untuk mengambil alih project itu dan menyatakan keluar dari perusahaan tempatnya kerja.

Ketika dia berhenti bekerja maka dia sudah menjadi pengusaha. Hanya saja pengusaha yang tidak punya  tract record dan juga tidak ada reputasi. Bagaimana dia bisa dipercaya untuk mengambil alih Power Plant itu?  Menurutnya, Pihak China melakukan tender offers kepada limited investor secara international. Tidak peduli siapa dan apa reputasinya, yang penting selagi peserta tender bisa menunjukan bukti dia punya uang maka dialah yang qualified sebagai pemenang. Ketika tender digelar, dipastikan hanya segelintir saja yang ikut lelang. Mengapa ? karena tidak banyak perusahaan yang mampu membuktikan ada Proof of fund senilai billion dollar cash. Memang banyak perusahaan raksasa berkelas dunia namun asset tunai dalam jumlah besar hampir tidak ada di neraca perusahaan. Asset tunai itu akan ada berdasarkan requirement project yang sudah final. Artinya untuk project yang belum ditangan, tidak ada jalur untuk mendatangkan uang tunai. Tapi dia berhasil menjadi pemenang. Itu artinya dia mampu memenuhi syarat menyediakan bukti uang (Proof of fund ) sebesar billion dollar. Bagaimana caranya?

Menurutnya ini hanyalah permainan skema investasi. Berdasarkan investment analysis yang disusunnya , dia berhasil meyakinkan Asset Management di Swiss untuk menyediakan credit enhancement bagi perusahaannya. Apa itu credit enhancement ? namanya saja enhancement atau pembesaran. Jadi dapat disimpulkan ini seperti meniup balon sehingga membesar namun tetap saja didalamnya hanya angin alias nothing. Tentu settlement nya melibatkan paper work yang sophisticated. Asset Management men structure dana dibawa kelolanya untuk di assignment melalui penempatan dana direkening perusahaannya namun dia tidak berhak apapun untuk menggunakannya tanpa persetujuan dari Asset Management. Dana itu kapan saja bisa ditarik kembali oleh pihak asset management. Pihak china tidak semudah itu percaya ketika melihat bukti dana dalam bentuk print out rekening Koran. Pihak china minta agar bukti dana itu di confirmed melalui SWIFT antara bank. Ya tentu bisa di confirmed karena memang uang ada direkeningnya. Setelah itu, dia dinyatakan qualified dan diberi waktu selama satu bulan untuk melakukan pembayaran.  Nah, sekarang bagaimana dia membayarnya ? bukankah dia hanya punya credit enhancement alias nothing.

Caranya sangat mudah. Credit enhancement itu di structure menjadi SBLC sebagai collateral untuk menarik pinjaman dari  bank. Bank mana ? Ya Bank di China. Karena project nya di china, ya sumber dana juga dari china. Setelah SBLC di delivery oleh banknya di Eropa ke bank di China maka kredit cair. Dana itu langsung dibayarkan kepada pihak china sebagai bentuk pelunasan pengambil alihan power plant. Selesailah. Nah , pertanyaannya adalah bukankah credit enhancement itu nilainya nothing, bagaimana bisa berubah menjadi SBLC ( cash collateral )? Tentu setelah dia menjadi pemenang tender maka diapun sudah legitimate menguasai underlying transaction, karenanya dia bisa bebas melakukan exit strategy sebagai risk management. Apa exit strategynya ? re-financing melalui penerbitan revenue bond. Artinya setelah project itu diambil alih melalui loan against SBLC maka dalam waktu yang sama revenue bond diterbitkan. Hasil penjualan revenue bond ini digunakan untuk pelunasan hutang kepada bank dan SBLC dibatalkan sehingga tidak terancam default karena basicnya nothing.

Pertanyaan terakhir adalah siapa yang berminat membeli revenue bond itu ? Pembelinya adalah trader batu bara, yang butuh off take market dari power plant dan sekaligus berharap future value dari kenaikan harga batu bara. Maklum value jual power ini berdasarkan harga fuel ( batubara ) international. Dua tahun setelah pengambil alihan itu, harga batu bara naik ketingkat tak terbayangkan. Otomatis pemerintah china harus membayar harga power per kwh sesuai dengan harga batu bara international.  Ketika itulah dia menjual Power plant itu kepada pihak lain  dengan harga dua kali lipat. Hasil penjualan itu digunakan untuk pelunasan revenue bond dan sisanya lagi dipakainya untuk melakukan akuisisi perusahaan dengan modus operandi yang hampir sama, yaitu create value melalui financial engineering. Kalau orang membangun business berlelah dan berkeringat dengan melewati rentang waktu puluhan tahun dengan resiko namun dia hanya mengutakatik paper work dapat menjadi billioner dalam hitungan tahun tanpa mengeluarkan resiko modal.

Dari semua aktifitasnya itu, tahukah anda bahwa dia tidak punya kantor, tidak punya staff. Kantornya ada didunia maya, staff ahlinya semua adalah outsourcing yang di hired berdasarkan on call. Dari puluhan perusahaan yang diambil alihnya dengan karyawan puluhan ribu mungkin tidak ada satupun yang mengenal dia. Karena kepemilikan perusahaan itu semua dibawah holding company yang terdaftar di Trustee regions ( virtual company). Dia kaya raya namun tidak membuat dia menjadi manusia sibuk dan protokoler. Dia tetap menikmati hidupnya karena jauh dari kesibukan para professional yang bekerja siang malam untuk memastikan perusahaannya mendatangkan laba. Apakah dia tidak kawatir dicurangi oleh para executive nya? Oh tidak!. Mengapa? Semua perusahaan yang diambil alihnya pada intinya  terikat dengan system moneter ( Pasar uang dan pasar modal ) yang tentu authority akan mengawasi ketat dari segala pelanggaran dan memastikan tidak ada penyimpangan akuntasi dan perpajakan. Artinya,  Negara bertindak sebagai watchdogs perusahaannya. Hebat,kan. Begitulah system kapitalis. Dunia dikendalikan oleh penguasa akses dana, bukan para mereka yang bekerja keras dan lulusan terbaik dari kampus terbaik...

Friday, July 19, 2013

Prabowo dan Freeport ...

Perkenalan Hashim Djoyohadikusumo dengan Nathaniel Rothschild ( Nat) diawali karena masalah lahan tambang Bumi resource di Kalimantan yang bersinggungan dengan lahan tambang Prabowo. Memang posisi tambang Bumi sangat tergantung jalur logistic nya dengan lokasi tambang milik Prabowo. Disamping itu Nat sedang bermasalah dengan group Bakrie soal kepemilikan saham pada Bumi Resource PLC. Nampaknya Nat tahu précis bagaimana menjadi pemenang dalam pertarungan hegemony pada Bumi Resource PLC dengan menjadikan Bakrie sebagai minoritas. Apabila Hashim mendukung maka Nat akan punya bargain position mendapatkan dukungan lebih dari mitra strategisnya untuk menggalang dana pengambil alihan saham milik Bakrie di Bumi Resource PLC. Sudah dipastikan apabila Hashim bergabung maka group strategis yang berada dalam jaringan kekuatan global Yahudi yang selama ini diuntungkan lewat penguasaan SDA di Indonesia, akan ikut bergabung dengan kekuatan penuh. Mereka semua adalah penguasa financial resource yang bersumber dari business Mining, Gas and Oil. Disaat dunia dilanda krisis, perusahaan perusahaan ini terus belanja investasi dimana mana. Seakan krisis dunia adaah timing yang tepat bagi mereka untuk menguasai business strategis diseluruh dunia.

Dalam pertemuan yang diadakan di pinggiran kota London, Hashim tidak menegaskan bahwa dia dalam posisi setuju atas tawaran dari Nat untuk bergabung dalam Bumi Resouce Plc namun dia akan membicarakan dengan Prabowo. Teman saya di Dubai mengirim email kesaya dengan nada satire menyikapi news dari Bloomberg atas rencana Nat menarik Hashim dalam jajaran direksi Bumi Resource Plc. Menurutnya bahwa tidak ada musuh abadi yang ada hanyalah kepentingan. Mengapa ? karena Nat bersama groupnya dulu berada dibelakang Ical yang mendukung kampanye Pilpres 2004 menjadikan SBY sebagai Presiden. 2009  Group Nat berhasil meloby elite politik AS untuk menghadang laju Prabowo sebagai Wapres berpasangan dengan Megawati. Ketika itu mereka melakukan lack campaign yang berkaitan dengan issue pelanggaran HAM oleh Prabowo dimasa lalu sebagai DanJen Kopassus. Ditambah lagi latar belakang Soemitro ( ayah Prabowo ) yang sosialis diyakinkan membawa pengaruh terhadap Prabowo yang tentu akan menjadi ganjalan terhadap kepetingan bisnis yahudi di Indonesia. Dukungan Lobi Nat bersama group nya sangat efektif membuat elite politik AS restriction terhadap Prabowo dan menguntungkan posisi SBY. Hashim paham betul akan itu Itu sebabnya usulan dari Nat itu tidak langsung ditanggapi positive oleh Hashim. Namun proses berjalan terus untuk menaklukan Hashim ( prabowo). They will do anything demi hegemony.

Nat memang tidak main main untuk menguasai Bumi Resource PLc dan sekaligus mendepak keluarga Bakrie. Ini pertarungan serius, all out.  Mengapa? Teman yang berkerja sebagai analis perdagangan emas di Hong Kong mengatakan bahwa nampaknya ada invisible war antara keluarga Bakrie dengan keluarga Rotchild berkaitan dengan penguasaan saham Bumi Resouce pada Pt. Freeport Indonesia. Jadi bukan hanya soal tambang batu bara tapi lebih daripada itu adalah emas dan tembaga. Walau saham Bumi Resource tidak significant pada PT Freeport Indonesia namun bila Ical jadi president maka saham Bumi di Freeport akan sangat mudah menjadi mayoritas. Lantas apa jadinya bila Rotchild tetap sebagai minoritas di Bumi Plc atau kalah dalam pertarungan dengan keluarga Bakrie ? Itulah sebabnya Nat rela mundur sebagai CEO dari Barrick Gold yang merupakan perusahaan tambang terbesar didunia hanya untuk focus di Bumi Resorce Plc. Benarlah, setelah itu group raksasa seperti Abu Dhabi Investment Council, Schroders Investment Management Limited, Standard Life Investments, Taube Hodson Stonex LLP, Artemis Investment Management LLP, dan Robert Friedland sudah standby dibelakang Nat dengan financial resource tak terbatas dan network loby politik di White house yang kuat.

Yang membingungkan adalah mengapa Nat bersama groupnya lebih merasa nyaman beraliansi dengan Hashim dibandingkan dengan Bakrie yang notabene adalah teman lama di Freeport Indonesia. Maklum Bakrie memiliki saham di Freeport melalui Pt. Bumi Resource sejak era Soeharto berkuasa. Hal ini dijawab oleh teman saya bahwa resiko lebih besar bila seorang teman yang akhirnya jadi presiden dinegara yang akan dianeksasi secara bisnis. Bukankah akan lebih baik bila teman jadi President. Tentu akan lebih mudah mengembangkan bisnis. Kata saya. Menurutnya selalu pada akhirnya pengusaha yang kelak menjadi president akan lebih mengutamakan kepentingan pribadinya  daripada kepentingan temannya. Bagaimana dengan keberadaan Hashim ? Nat tahu bahwa Hashim hanya peduli pada uang dan tidak peduli pada kekuasaan. Karena itu diyakinkan akan lebih mudah mengelola Hashim untuk menjadikan Prabowo sebagai pendukung setia kepentingan business  mereka di Indonesia , khususnya atas penguasaan resource Mining , gas and Oil. Apalagi mereka tahu bahwa sebagian besar dana operasional Garindra berasal dari donasi Hashim.

Bagi Prabowo keberadaan Group Rotchild sangat strategis menghapus ban politik Senat AS terkait masa lalunya terhadap pelanggaran HAM, menghapus data cases yang outstanding di ICC (International Criminal Court). Kedua hal tersebut  batu krikil menuju RI1. Dan saat kini ia butuh dana lebih untuk biaya menuju  RI1. Tentu Rotchild melalui Hashim menawarkan uang tidak sedikit untuk mendapatkan kekuasaan itu. Akhirnya teman saya menyimpukan bahwa seharusnya Ical mendukung Prabowo menjadi presiden daripada mencalonkan diri sendiri sebagai Presiden. Ya setidaknya tetaplah berlaku sebagai settlor untuk kepentingan mereka , seperti dulu Ical menjadi settlor mendukung SBY sebagai Presiden RI. Itu lebih baik bagi kepentingan bisnis Bakrie karena tidak ada kekuatan ( Private maupun government ) yang bisa mengalahkan group Rotchild. Benarkah kini Hashim sudah berada didalam genggaman Yahudi? Saya tidak tahu namun News Bloomberg dua hari lalu menyebutkan bahwa Prabowo membela keberadaan Freeport di Papua dan akan terus mendukung konsesi itu untuk kepentingan Indonesia…Apakah ini ada kaitannya ??? Entahlah.

Tuesday, July 16, 2013

Kemandirian bangsa..

Dalam suatu perjalanan bisnis ke Kunming ( Yunnan,China ) saya didampingi oleh tiga teman pengusaha dibidang IT di China. Mereka pengusaha manufacure Cisco product, Cellphone dan peralatan aplikasi GPS. Yang membuat saya kagum adalah mereka semua masih tergolong  muda. Usia mereka rata rata empat puluh tahun dan umumnya mereka mengawali bisnis ketika tamat universitas. Kini perusahaan mereka sudah mencatat omzet ratusan juta dollar dengan jangkauan pasar keseluruh dunia.  Bagaimana mereka bisa menjadi pengusaha besar berkelas dunia dalam usia muda? Menurut mereka bahwa semua berkat dukungan pemerintah. Tanpa kebijakan pemerintah, mereka tidak mungkin bisa tumbuh cepat. Bagaimana caranya pemerintah mendukung? Belanja APBN adalah alat ampuh negara untuk menciptakan pertumbuhan dan sekaligus pemerataan. Ketika pemerintah butuh alat terkhnologi, katakanlah bidang IT maka pemerintah memberikan kesempatan pengusaha nasional yang mampu menggandeng vendor world class yang mau membuat produk itu di China. Andaikan tidak ada vendor yang bersedia maka Pemerintah  china memberikan kesempatan kepada universitas bersama Pusat riset Nasional untuk menciptakan produk tersebut. Semakin besar belanja APBN maka semakin besar peluang baru terbuka bagi new commer enterprenuer dari kalangan kampus.Bagaimana dengan modal ? tanya saya .

Modal akan datang sepanjang pasar terjamin,apalagi sumber dana ventura. Berkat jaminan pasar dari Pemerintah sebagai mean buyer maka hampir dapat dipastikan semua bank di china bersedia memberikan kredit untuk membangun pabrik.  Begitu sederhananya cara pemerintah china melontarkan orang kedalam medan real world sebagai enterprenuer.  Ya, namun selanjutnya mereka harus berusaha mencari pasar alternative.Kalau tidak mereka tidak bisa tumbuh. Mengapa ? Karena pemerintah tidak akan memberikan order selama lamanya kepada pengusaha itu. Kesempatan akan diberikan kepada pengusaha pemula lainnya. Jadi peran negara hanya sebagai trigger untuk tampilnya new commer enterprenuer dari kelas terdidik.  Itulah sebabnya setelah mereka tumbuh walau tidak lagi mendapatkan fasilitas pasar dari negara namun rasa terimakasihnya sangat besar kepada negara. Caranya berterimakasih adalah dengan bekerja keras untuk mampu bersaing melewati putaran waktu. Mereka tak ingin peluang yang sudah dalam genggaman hancur dan akhirnya  tetap menjadikan mereka sebagai beban pemerintah karena kredit macet atau produk kalah bersaing, sehingga para buruh harus kehilangan pekerjaan. Jadi ketika pemerintah membantu mereka , secara tidak langsung jiwa mereka sudah terpasung untuk menjaga kehormatan almamaternya, keluarganya dan lingkungannya. Hanya satu cara untuk selamat yaitu kerja keras dan kerja keras. 

Ada kesamaan visi antara Pemerintah dan Pengusaha bahwa kepentingan nasional adalah segala galanya. Kalaulah keterlibatan asing tidak bisa dihindarkan karena alasan resiko investasi yang besar, karena tekhnologi yang ruwet dan belum dikuasai oleh china atau karena branded dlll maka pemerintah memberikan konsesi kepada pengusaha nasional sebagai pendamping asing. Tugas pengusaha nasional itu adalah dalam jangka panjang harus menjadi mitra sejajar dengan asing dan akhirnya kalau bisa menjadi penguasa tunggal . Segala hal yang diperlukan oleh pengusaha nasional maka pemerintah akan selalu siap membantu, seperti kisah Shanghai Automotive Industry Corporation (SAIC) yang mengakuisi saham VW di China dan terakhir membeli brand VOLVO. Tentu pada moment dimana pengusaha nasional sudah mampu menguasai tekhnologi dan pasar. Keadaan seperti ini tentu dibutuhkan sumber daya  Wiraswasta dari kalangan terdidik. Mereka pasti mampu kalau diberi kesempatan. Hampir semua CEO perusahaan high tech di China adalah alumni China Academic of Science.  Namun bagaimanapun china masih butuh banyak pengusaha dari kalangan terdidik. Upaya propaganda untuk memotivasi kalangan kampus masuk dalam dunia wiraswasta dilakukan secara systematis oleh pemerintah. Berbagai insentif dan motivasi diberikan lewat tutor berjenjang dari para kader partai.

Infrastruktur pendukung lahirnya  new commer enterprenuer ini disiapkan by design.  Venture capital dari kelas teri sampai kelas kakap disediakan. Perbankan yang berbasis kepada bidang investasi ( Bank   Of china ), pertanian ( Agriculture bank of china ), perdagangan dan industry ( industry and commercial  bak of china ) dll diperkuat dan diperluas jangkauannya.  Berbagai sumber pembiayaan yang mudah diakses disediakan luas oleh pemeritah. Juga berbagai lembaga riset dibidang tekhnologi tersedia secara meluas untuk memberikan solusi dibidang rekaya tekhnologi. BUMN china tampil sebagai penyedia industri hulu yang sarat modal dan tekhnologi untuk memberikan dukungan supply akan bahan baku yang murah dan melimpah. Dukungan insfrastruktur ekonomi yang selalu ditingkatkan membuat kondisi logistic system di China semakin efektif dan efisien.Ini pula yang mempermudah pengusaha china untuk mendapatkan kesetaraan dengan mitra global.  Artinya keseriusan negara mendesign pembangunan yang berorientasi kepada produksi memang menempatkan pengusaha China punya bargain position yang kuat dihadapan mitra  asing. Konsistensi pemerintah dalam menerapkan hukum membuat legitamasi kontrak kemtiraan menjadi bernilai.   

Bagaimana dengan Indonesia ? pengadaan ( procurement ) barang di lingkungan pemerintah selalu didominasi dengan rekanan pengusaha yang sudah lama eksis dan dekat dengan pejabat. Semua pengadaan barang tekhnologi tidak ada ketentuan yang mengharuskan barang tersebut dibuat didalam negeri.  Pengusaha boleh impor build up. BUMN yang memegang industri hulu seperti IPTN sudah dikerdilkan.  PT Krakatau Steel telah diprivatisasi kepada pihak asing.  Tak ada lagi industri strategis BUMN yang berkibar  benderanya sebagai pendukung supply chain  industri dan manufacure nasional, bahkan BUMN penghasil garam ( paling sederhana teknologinya namun pital kebutuhannya) harus ditutup.  Satu demi satu produk nasional yang unggul dipasar dalam negeri seperti Kecap KS, Aqua, Ades, Sampoerna, dll telah diambil alih oleh asing. Semakin banyak sarjana dihasilkan semakin banyak daftar pengangguran terdidik dan hampir tidak ada  upaya sistematis melahirkan new commer enteprenuer dari kalangan kampus. Pusat riset yang beranggaran rendah dengan gaji peneliti ala kadarnya merupakan bukti bahwa negara ini tidak dikelola secara modern, apalagi hukum bisa dibeli dan serba tidak pasti.

Ya, sebagai penutup saya akan sadur penggalan puisi Taufik ismail “Negeri kita tidak merdeka lagi, kita sudah jadi negeri jajahan kembali. Selamat datang dalam zaman kolonialisme baru, saudaraku. Dulu penjajah kita satu negara, kini penjajah multi-kolonialis banyak bangsa. Mereka berdasi sutra, ramah-tamah luarbiasa dan banyak senyumnya. Makin banyak kita meminjam uang, makin gembira karena leher kita makin mudah dipatahkannya.” Demikian kesimpulan saya, dan benarlah bahwa selagi kita tidak mandiri selama itupula kita tidak bisa mempertahan idiologi kita, agama kita, budaya kita, juga wanita kita dan anak anak kita.

Saturday, July 6, 2013

Bangsa Konsumen


Menurut riset The Boston Consulting Group tahun lalu tingkat optimisme konsumen di Indonesia tertinggi di dunia, di antara negara-negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang pesat saat ini, yakni Brazil, Rusia, India, dan China. Tingkat optimisme tersebut diukur dari keyakinan akan keadaan finansial konsumen kelas menengah ke atas (middle and affluent consumers). Tahun ini hasil  survey Nielsen menyebutkan bahwa Indonesia adalah negara dengan Indeks Kepercayaan Konsumen tertinggi di dunia, mengalahkan India. Apa artinya ini ? Daya beli orang Indonesia sangat tinggi. Inilah berkat dari pertumbuhan ekonomi selama era SBY. Semua merek asing ada di Indonesia. Kendaraan mewah diatas Rp. 5 miliar ada dijalanan Jakarta. Apartement mewah diatas Rp. 10 miliar juga ada. Life style dari luar negeri masuk bebas ke Indonesia dan diadobsi dengan rakus oleh orang Indonesia. Setiap konser musik dari luar negeri diadakan di Indonesia , tidak penting berapa harga ticket akan selalu habis terjual. Setiap model baru hp di louncing , selalu ramai antrian orang membeli. Memang tidak banyak orang Indonesia yang mempunyai kebebasan financial untuk membeli apa saja. Mereka hanya segelintir tapi kekuatan konsumsinya mengalahkan seluruh warga dari negara maju.

Yang membedakan antara orang Indonesia dan asing  adalah ketika dia berbelanja. Orang Indonesia kalau suda pegang duit dia lupa indentitasnya sebagai orang Indonesia yang harus mengutamakan buatan Indonesia seperti Jepang yang lebih percaya dengan merek made in Japan. Semua produk asing dianggap produk terbaik dengan reputasi terbaik pula. Buatan indonesia dianggapnya berkualitas rendah dan selera rendah. Ini bukan hanya dimonopoli oleh rakyat yang doyan belanja. Para elite politik  juga lebih percaya draft RUU bila mengcopy dari luar negeri untuk diterapkan di Indonesia.Singkatnya segala sesuatu yang bersumber dari asing adalah terbaik.Nasionalisme yang dulu pernah membuat orang rela mati bela negara ,kini telah digantikan maju tak gentar  membela yang bayar. Bila globalisasi bertujuan menciptakan negara dunia tanpa dihambat oleh indentitas negara dan bangsa maka Indonesia telah lebih dulu menjadi bagian itu.Kebanggaan sebagai orang indonesia tidak ada lagi sejak para wanita miskin Indonesia menjadi jongos dinegeri orang, menjadi PSK dinegeri orang.Hal inilah yang membuat pemerintah begitu yakin pragmatisme politik sesuatu yang baik. Jangan ada lagi idiologi membuat Indonesia hanya dimiliki oleh orang Indonesia saja. Semua penduduk dunia punya hak memanfaatkan potensi Indonesia, dan menikmati laba dari itu.

Itu sebabnya design pembangunan tidak pernah diarahkan untuk lahirnya kemandirian bangsa akan kemampuan memenuhi kebutuhannya sendiri. Cobalah bayangkan, kata teman periset di Hong Kong, Indonesia merupakan negara yang menjadi target arus dana dari negara maju akibat kebijakan suku bunga rendah paska krisis global. Mengapa? Ya karena tingginya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipicu oleh kekuatan konsumsi dalam negeri. Tapi peluang hebat ini, tidak dimanfaatkan maksimal oleh Indonesia untuk tumbuhnya sektor riil. Pemerintah membiarkan kesempatan itu pergi begitu saja. Sementara banjirnya likuditas itu hanya berputar putar pada produk financial market seperti obligasi dan saham. Mengapa investasi di sektor riel tidak begitu antusias seperti maney market? penyebabnya adalah walau upah buruh di Indonesia tergolong murah namun untuk menghasilkan produk yang efisien sangat sulit. Hal ini disebabkan oleh minimnya infrastruktur ekonomi untuk distribusi barang dan jasa , amburadulnya system logistik karena aparat yang korup. Suku bunga yang tinggi. Dan akibatnya bagi pengusaha, lebih baik impor untuk memenuhi peluang konsumsi dalam negeri daripada buat sendiri. Apalagi Menteri Perdagangan punya visi lebih baik impor dengan harga murah daripada mahal buatan lokal.

Indikasi tingginya daya beli masyarakat Indonesia yang tidak menimbulkan gairah investasi untuk terbangunnya sektor rill memang sangat membingungkan logika ekonomi. Namun itu dapat dijelaskan oleh teman saya periset di Shanghai. Dia mengatakan bahwa tingginya konsumsi di Indonesia berasal dari  kelompok menengah yang jumlahnya tidak lebih 2% dari penduduk Indonesia. Mereka bukan konsumen solid. Tingkat ketergantungan mereka kepada pemerintah sangat tinggi. Karena sebagian besar pendapatan mereka didukung oleh kebijakan korup negara, bukan oleh kreatifitas value yang memungkinkan mereka sebagai agent pembangunan.Bukan!. Kelompok konsumen seperti ini sangat renta.  Bila rezim ini roboh karena supply dana ke APBN lewat berhutang semakin sulit seperti Amerika, maka mereka bukan lagi sebagai konsumen. Karena tidak ada lagi uang untuk belanja. Ya, pasar Indonesia hanyalah pasar temporari yang tidak bisa dijadikan acuan untuk investasi pabrik jangka panjang. Impor adalah lebih layak. Makanya jangan kaget bila tingginya pertumbuhan ekonomi tidak diringi geliat industri dan manufaktur tumbuh seperti tumbuhnya mall di Jakarta dan kota kota besar di Indonesia. Sayang kesempatan emas telah lewat. Inilah nasip, bila negara diurus oleh mereka yang bermental jongos dan korup. Kedepan Indonesia akan menghadapi kelangkaan likuiditas dan semakin tingginya defisit neraca perdagangan karena tingginya konsumsi namun rendah produksi. Memang sudah sepatutnya Indonesia punya pemimpin visioner untuk kemandirian bangsa dan bermartabat secara international. Mungkinkah?

Monday, July 1, 2013

Apakah itu Settlor ?

Apakah settlor? Settlor adalah seseorang atau lembaga yang diberi kepercayaan untuk memiliki suatu harta untuk dan atas nama pemilik yang sebenarnya. Settlor  pada prinsipnya bisa juga bertindak sebagai wali amanat, wakil dari ahli waris, wakil dari pemilik yang intinya dia hanya bertugas sebagai nama pemilik suatu asset tapi bukan pemilik yang sebenarnya. Walau asal muasal Settlor itu dari hukum inggeris namun dalam prakteknya dapat diterapakan diseluruh dunia melalui skema transaksi yang saling terhubung untuk kepentingan pemilk sebenarnya. Skema transaksinya bisa melalui hutang, gadai, leasing, venture capital dan lain lain. Umumnya Settlor digunakan untuk penghindaran Pajak ( praktek transfer pricing ), pengaburan asal usul dana ( money laundry)  penghindaran praktek kartel atau monopoli. Dalam dunia investasi settlor itu merupakan profesi yang bergengsi karena ia adalah pihak yang dipercaya ( trust ) oleh investor. Kepercayaan itu bukan hanya karena kehebatannya ilmunya tapi lebih kepada reputasi dan loyalitasnya yang teruji oleh waktu, dan yang lebih penting lagi kehebatannya menjangkau ring satu kekuasaan negara. Maklum karena yang diwakilinya adalah para investor yang bermasalah.

Dihadapan public sang settlor adalah pemilik formal karena didukung oleh legitimasi Negara berdasarkan hukum yang berlaku. Pemilik sebenarnya tersamarkan. Anda mungkin sering mendengar cerita bahwa ketika krismon tahun 1998 banyak  konglomerat hitam melarikan uang BLBI ke Singapore. Tapi kenapa setelah mereka menanda tangani Master settlement agreement (MSA)dengan pemerintah via BPPN, tapi tetap saja pemerintah tidak bisa mengambil alih harta Konglomerat hitam itu yang ada di Singapore. Mengapa ? karena berdasarkan hokum memang tidak ada satupun rekening atas nama konglomerat hitam itu di bank Singapore.  Mereka  menggunakan Settlor untuk melaksanakan penempatan dananya di perbankan. Sang settlor ini biasanya membungkus dirinya melalui Offshore company yang terdaftar dibawah Hukum British seperti Cayman Island, Isle of man, British Virgin Island, Labuan di Malaysia dll. Pada offshore company ini umumnya ditempatkan nominee director atau proxy yang mendapatkan assignment dari Settlor. Disamping itu perusahaan tersebut berlindung dibalik Trustee law yang menjamin kerahasiaan informasi 
.
Pt. Gajah Tunggal oleh BPPN dilelang dan pemenangnya adalah Garibaldi Venture Fund Ltd. Katanya Garibaldi Venture Fund Ltd adalah perusahaan yang terdaftar di Singapore. Ternyata tidak ada. BCA dilelang oleh BPPN yang menang adalah Paralon. Menurut informasinya bahwa Farallon Capital Management LLC merupakan perusahan go-public dengan nomor 0000909661. Namun di dalam situs SEC dan di 20-F FCM bagian daftar subsidiaries tidak terdapat nama FarIndo maupun BCA sebagai anak perusahaan. Dan dari business registry nya mauritius juga tidak ada nama FarIndo sebagai perusahaan berdomisili di Mauritius Hal tersebut juga terjadi Swissasia Global pengakuisisi Lippo Bank.  UniBank Tbk dengan 21 pemeggang saham SPV dari Samoa Island. Juga Indosat dijual ke STT Singapura ternyata Sales & Purchase Agreementnya (SPA) ke Indonesian Communication Limited (ICL) Mauritius yang katanya subsidiary dari STT Singapura. Ternyata tidak ada ICL sebagai anak perusahaan STT Singapura dan di Busuness Registry Mauritius juga tidak ada ICL terdaftar disana. Perusahaan perusahaan tersebut kata teman saya bukannya tidak ada tapi memang semua  informasi tentang perusahaan yang mengambil alih tidak bisa dilacak, apalagi ultimate owner. Begitulah kehebatan dari UU trustee Law. Sehari hari perusahaan itu dikelola oleh professional asing atau local dan sang pemilik yang sebenarnya hidup senang dari hasil rampokan BLBI.

Mungkin anda sering mendengar ada pengusaha Indonesia melakukan aksi pengambil alihan perusahaan Asing. Katakanlah perusahaan itu adalah XYZ. Melalui media kita tahu pengusaha itu mengatakan bahwa seratus persen dana pengambil alihan itu tidak berasal dari kantongnya tapi dari pinjaman sindikasi perbankan international. Tentu dengan bangganya pengusaha itu meng claim akan reputasinya lebih hebat dari asing. Lebih dipercaya oleh perbankan. Benarkah? Jangan mudah percaya dengan berita media. Harus tahu bahwa tidak ada istilah trust bagi perbankan tanpa financial guarantee atau collateral. Apakah pengusaha local itu punya collateral ? apakah hanya cukup reputasi saja untuk berhasil mendapatkan pinjaman? Oh tidak. Lantas bagaimana ? Collateral untuk pinjaman sindikasi perbankan itu berasal dari pemilik XYZ. Pengusaha local itu sebetulnya bertindak sebagai settlor. Tujuannya agar XYZ terhindar dari restriction yang ditetapkan oleh pemerintah berkaitan dengan penguasaan resource.  Pengambil alihan itu terjadi secara legal namun dibalik itu pemilik sebenarnya tetaplah asing atau XYZ.  Praktek seperti ini banyak dilakukan oleh asing untuk bisnis retail network, oil and gas, mining, plantation, property.

Mungkin anda sering mendengar ada pengusaha nasional yang begitu agresif nya mengembangkan usaha dengan mendapatkan dukungan perbankan international dan vendor international. Kadang nilai investasi untuk expansi usahanya sangat luar biasa sehingga kadang tidak masuk akal. Tapi begitulah kenyataanya. Benarkah pengusaha local itu perkasa? Anda bisa lihat skema investasi atas ekpansi usahanya itu. Seperti bisnis pesawat terbang yang umunya pembiayaan berasal dari Limited Partnership Fund (LPF). Artinya pihak asing sebagai investor menjadi mitra terbatas , hanya khusus atas pesawat yang dibiayainya. Atau ini sama dengan leasing company. Investor menetapkan bunga atas uangnya ditambah margin keuntungan yang dia tetapkan. Maklum ini pinjaman tanpa collateral. Skema ini percis yang diterapkan  oleh PLN untuk pembangunan Power Plant yang kini nilai LPF sebesar usd 23 milliar atau setara Rp. 210 Triliun. Secara tidak lansung perusahaan penerbangan itu dan PLN sudah dikuasai oleh asing. Juga terjadi pada Bisnis Media TV dan media cetak. Pihak investor asing disamping mengambil alih saham dengan size sesuai aturan UU , juga memberikan pinjaman modal kerja dan investasi kepada perusahaan media. Dengan demikian asing berhak penuh mengendalikan media itu, baik sebagai share holder maupun sebagai lender. Bayangkanlah apa yang terjadi bila media massa dikuasai asing...

Para settlor itu bekerja keras dan loyal kepada beneficiary ( pemilik sebenarnya). Merekalah yang berada dibalik suap anggota DPR dalam pembahasan UU untuk menghilangkan restriction modal menguasai resource nasional. Merekalah yang berada dibalik UU liberalisasi sektor perbankan, Migas, Perdagangan, Investasi dan lain lain. Umumnya mereka disamping pengusaha terkenal juga dekat dengan kekuasaan. Bahkan ada yang jadi ketua umum partai dan penasehat President. Ya, asing memang tidak mengirim senjata dan rudal untuk menguasai negeri ini tapi menjadikan para settlor sebagai agent menjajah negeri ini. Sementara para beneficiary, hidup mewah di Singapore, Hong kong , London, NY. Sambil membaca berita tentang pemerintah membagi bagikan uang receh untuk rakyat miskin...