Monday, April 30, 2018

Hikmah Kasus Century


Dalam putusannya pada 9 April lalu, hakim tunggal Effendi Mukhtar mengabulkan gugatan yang diajukan Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) terhadap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Pada salah satu butir putusan, hakim memerintahkan KPK selaku termohon untuk melakukan penyidikan dan menetapkan tersangka terhadap Boediono, Muliaman D Hadad, Raden Pardede, dan kawan-kawan. Saat itu Boediono adalah Gubernur Bank Indonesia.Saya sedih melihat Pak Boediono dibicarakan di media Massa. Saya yakin tidak ada motif buruk yang memastikan Pak Boed bersalah dan terlibat kasus Bank Century. Kalau dia terjebak , tidak sengaja, itu bisa di terima. Tetapi situasi ketika itu dia harus memilih dan menentukan sikap dalam keadaan genting. Kalau engga negara akan masuk spiral krisis akibat dampak sistemik.

Sebetulnya kasus bank Century ini sederhana. Berawal dari krisis keuangan dari tiga bank yaitu Bank Pikko, Bank Danpac, dan Bank CIC. BI mencari solusi untuk menyelamatkan bank tersebut. Tahun 2001 ada tawaran dari Chinkara Capital Ltd yang berdomisili hukum di Kepulauan Bahama ( offshore ) untuk mengakuisisi ketiga bank itu dan kemudian di merger jadi satu. Entah mengapa proses penawaran ini tidak mengikuti standar kepatuhan BI. Tanpa mendalami lebih jauh reputasi calon investor, pada 5 juli 2002, BI tetap melanjutkan proses merger atas ketiga bank tersebut. Semua resiko atas Asset bank berupa Surat Surat Berharga yang semula dinilai macet oleh BI menjadi dinilai lancar karena di bail out oleh Chinkara Capital Ltd. Sehingga kewajiban pemenuhan setoran kekurangan modal oleh pemegang saham pengendali (PSP) menjadi lebih kecil dan akhirnya rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio (CAR)) terpenuhi.

Nah darimana Chinkara Capital Ltd mem bail out itu? Ya pakai surat utang lagi namun di confirmed oleh first class bank. Namun apa yang terjadi kemudian? Selama periode tahun 2005–2008 diketahui bahwa posisi rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio (CAR)) Bank Century per 28 Februari 2005 (dua bulan setelah merger) adalah negatif 132,5%. Apa pasal ? karena asset berupa SSB itu tidak likuid. Tetapi BI tetap saja tidak memerintahkan kepada Bank Century melakukan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) terhadap Surat-surat berhaga (SSB) tersebut. Mengapa ? karena ada perjanjian Asset Management Agreement (AMA) antara Bank Century dan Telltop Holdings Ltd, Singapore dalam rangka penjualan surat-surat berharga Bank sebesar US$ 203,4 juta.

Yang jadi masalah dalam transaksi jaminan likuiditas ini adalah Telltop Holdings Ltd tidak bayar pakai uang. Lagi lagi bayar pakai surat utang berupa Pledge Security Deposit ( PSD ) sebesar US$ 220 juta di Dresdner Bank (Switzerland) Ltd. Jadi sejarahnya dari awal sejak akuisisi memang berputar putar hanya surat utang bukan uang tunai. Artinya bermain main di neraca yang non eligible. Yang lebih konyol lagi adalah berdasarkan AMA, oleh Telltop Holdings Ltd , SSB itu dijaminkan kepada Saudi National Bank Corp sesuai dengan perjanjian tgl 7 Desember 2006 untuk menjamin fasilitas L/C. Sisanya di jaminkan kepada First Gulf Asian Holdings, National Australia Bank. Nomura Bank International Plc dan Deutsche Bank.

Karena asalnya memang SSB itu bermasalah maka ketika jatuh tempo tidak bisa cair. Maka bank bank tersebut sesuai aturan international meminta BI harus tanggung jawab. Kalau tidak akan berdampak sistemik. Makanya terpaksa pemerintah mengeluarkan dana talangan. Bagaimana dengan Pledge Security Deposit sebesar US$ 220 juta di Dresdner Bank (Switzerland) Ltd dari Telltop Holdings Ltd? Bodong!

Disamping itu, selama paska akuisisi itu PT Antaboga Delta Securitas dibawah group Century juga menjual surat berharga yang menjanjikan untung 20% sebulan. Tidak sedikit dana publik yang mengalir ke surat utang ini. Publik percaya karena ada nama Bank Century dibalik surat utang itu. Ketika Bank Century jatuh, dana nasabah PT Antaboga Delta Securitas juga hilang. Pemerintah tidak bisa bayar. Karena mereka bukan nasabah bank. Yang di jamin hanya nasabah bank yang deposito dibawah ketentuan LPS. Karena ada deposan besar yang dibujuk masuk menyelamatkan likuiditas century maka terpaksa walau mereka diatas ambang batas yang dijamin LPS, tetap dibayar dengan membuat beberapa lembar bilyet deposito sesuai batas jaminan LPS.

Secara akuntasi tidak ada kerugian negara. Karena yang membayar kerugian Century adalah LPS yang dananya berasal dari deposan dalam bentuk premium asuransi. Jadi siapa pelaku sesungguhnya ? ya investor Chinkara Capital Ltd yang meraup dana triliunan dengan menggunakan SSB yang semuanya adalah mirror asset, yang ilegible. Tetapi knowledge pejabat BI dan Menteri Keuangan engga sampai kesana. Sehingga mudah dibobol. Yang jelas pelaku utamanya Robert Tantular dan Chairman Chinkara Capital Ltd sudah dikenakan hukuman oleh pengadilan. Dari kejadian Century ini, ada hikmah dimana BI dan OJK lebih hati hati dalam mengawasi perbankan, dengan prinsip cash basis , bukan Accrual Basis

Thursday, April 5, 2018

PERTAMINA VS PETRONAS.



Oposisi Jokowi menilai pemerintah gagal mengelola Minyak dan Gas. Laba bersih PT Pertamina (Persero) kembali turun tahun 2017. Padahal perusahaan-perusahaan minyak dan gas bumi di negara-negara lain masih berhasil mencatatkan kenaikan laba bersih seiring naiknya harga minyak dunia. Contoh Petronas berhasil mengantongi laba setelah pajak sebesar 10 miliar ringgit di kuartal III-2017, naik 64% dari kuartal yang sama di 2016 sebesar 6,1 miliar ringgit. Sementara perolehan laba bersih Pertamina turun dari US$ 3,15 miliar di 2016 menjadi US$ 2,4 miliar di 2017 atau Rp 36,4 triliun (kurs Rp 13.500), atau turun sebesar 23%. Kalau melihat fakta memang begitu adanya. Namun ada baiknya kita melihat duduk persoalan secara jernih sehingga kita tahu arah kebijakan Pemerintah agar Pertamina bisa mengalahkan Petronas.

Asset 
Dari sisi Asset memang Pertronas lebih besar dari Pertamina atau tiga kali lebih besar. Tetapi harap di catat bahwa semua sumber daya Migas dimilik negara Malaysia dan menjadi cadangan ( asset ) bagi Pertronas. Sementara kita, Pertamina disamakan dengan Badan Usaha lain dibidang NOC dimana sumber daya dikuasai negara atau SKK Migas.  Akibatnya Pertamina harus bersaing dengan NOC lain yang ada di Indonesia. Hal ini karena aturan UU Migas 2001 dan PP tahun 2003 Perubahan fungsi pertamina menjadi Perseroan. Kalaulah Cadangan Migas yang dikuasai negara itu menjadi asset pertamina tentu asset Pertamina akan naik lebih besar dari Petronas. Dan ini bisa digunakan oleh Pertamina  untuk collateral menarik dana dari pasar untuk ekspansi.  

Kebijakan Pemerintah Jokowi dalam hal ini adalah mengubah skama cost recovery menjadi gross split. Apa itu gross split ( PP.N0.53/2017)  ? Skema bagi hasil terhadap kontraktor kontrak kerja sama (KKKS), dengan aturan pembagian migas, 57 persen untuk negara dan 43 persen untuk kontraktor, sementara pembagian untuk gas bumi 52 persen ke negara, 48 persen untuk kontraktor. Nah yang bagian negara ini menjadi asset atau cadangan Pertamina. Namun perlu ada revisi UU MIGAS agar posisi Pertamina menjadi kuat secara hukum. Dengan revisi UU MIgas ini maka fungsi sosial Pertamina terhadap stabilitas harga BBM diseluruh indonesia menjadi sejalan. Selama ini Pertamina sebagai badan Usaha yang profit oriented tetapi pada waktu bersamaan harus melaksanakan Public Service Obligation dalam hal distribusi BBM.Tentu tidak adil atau tidak sejalan.

Struktur Bisnis
Petronas itu di Malaysia sendiri bisnis downstream-nya (bisnis hilir) cuma 40 persen.Jadi fluktuasi harga tidak begitu terpengaruh. Apalagi laba di hilir itu memang tidak besar. Maksimum10% gross. Makanya Pertronas bisa focus meningkatkan laba dari bisnis trading dan hulunya. Bagaimana dengan Pertamina?  lebih dari 95 persen bisnis Pertamina itu ada di hilir, dan distribusi sampai daerah-daerah terpencil. Makanya ketika harga Crude naik, downstream memang untung seperti tahun 2016, dimana laba Pertamina  lebih tinggi dari Petronas. Tetapi ketika harga Crude naik, ya Pertamina jebol. Bagaimana solusinya ? Pemerintah telah menugaskan Pertamina untuk membangun kilang ( refinery ) agar Indonesia tidak lagi tergantung dengan BBM Impor. Sekarang 4 kilang sedang proses pembangunan. Apabila kilang ini semua selesai dan dukungan Gross split skema, Indonesia akan mandiri di bidang BBM.

Bisnis masa depan.
Karena kebutuhan BBM setiap tahun terus meningkat dan sumber daya migas terus berkurang, dan kita sudah net impor Migas maka Indonesia harus meningkatkan sumber daya MIGAS nya dari sumber dalam dan luar negeri. Disamping terus meningkatkan produksi dalam negeri, Pertamina juga mengambil alih lapangan minyak yang ada diluar negeri. PT Pertamina International EP (PIEP) berhasil menambah sembilan aset minyak dan gas bumi (migas) di luar negeri sepanjang tahun 2016. Angka ini melonjak 200 persen dibandingkan tiga aset migas di luar negeri yang dikuasainya sampai akhir 2015 lalu di Aljazair, Malaysia, dan Irak. Sampai sekarang Pertamina terus memburu landang minyak yang ada di luar negeri. Target produksi minyak  di luar negeri tahun 2018 sebesar 108 ribu bph dan gas 266 MMSCFD. 

Kesimpulan.
Masalah pengelolaan MIGAS sudah salah urus sejak puluhan tahun. Di era Jokowi di benahi dari tata niaga sampai kepada produksi, kebijakan makro ( UU )  sampai kapada struktur bisnis. Ini sedang berproses dan progress signifincat sekali. Tahun 2025 Pertamina akan mengalah Petronas, dan menjadi Perusahaan berkela dunia. Masalahnya kalau Jokowi tidak terpilih sebagai presiden lagi, mungkinkah tahun 2025 impian menjadi kenyataan? 

Unggul ditengah perubahan...

Tahun 2013, PT Nippon Indosari Corpindo Tbk (ROTI), PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST) dan PT Indomarco Prismatama (Indomaret), di akuisis oleh PT Dyviacom Intrabumi Tbk (DNET) yang kemudian mengubah nama menjadi PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. Pemegang saham DNET adalah Hannawell Group Limited 39,64%, Treasure East Investments Limited 29,66%, PT Trimegah Eraraharja 27,82%, dan publik 2,88%. Kemudian tahun 2015 dicaplok oleh investor asal Inggris, Tower Bridge Ventures Limited senilai Rp1,01 triliun. Tower Bridge Ventures Limited merupakan investment company, berdomisili di Offshore Incorporation Centre, Road Town, Tortola, British Virgin Islands dengan pemegang saham nominee Hou Lili yang mewakili. Prominent Growth Fund Sp, sebagai beneficiary. Kita tidak akan pernah tahu siapa sebenarnya dibalik PGF.

Apa yang terjadi tahun 2018? Laba Indomaret mengalami penurunan drastis hingga 95 persen. Mengapa ini sampai terjadi ? Karena begitu cepat perubahan bisnis itu. Lambat mengambil keputusan atau salah mengambil keputusan maka kerugian kehancuran hanya masalah waktu. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengubah dunia sebagaimana revolusi generasi pertama melahirkan sejarah ketika tenaga manusia dan hewan digantikan oleh kemunculan mesin. Salah satunya adalah kemunculan mesin uap pada abad ke-18. Revolusi ini dicatat oleh sejarah berhasil mengerek naik perekonomian secara dramatis di mana selama dua abad setelah Revolusi Industri terjadi peningkatan rata-rata pendapatan perkapita Negara-negara di dunia menjadi enam kali lipat.

Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam (combustion chamber). Penemuan ini memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang, dll yang mengubah wajah dunia secara signifikan. Kemudian, revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan teknologi digital dan internet.

Selanjutnya, pada revolusi industri generasi keempat, menemukan pola baru ketika disruptif teknologi (disruptive technology) hadir begitu cepat dan mengancam keberadaan perusahaan-perusahaan incumbent. Sejarah telah mencatat bahwa revolusi industri telah banyak menelan korban dengan matinya perusahaan-perusahaan raksasa. Lebih dari itu, pada era industri generasi keempat ini, ukuran besar perusahaan tidak menjadi jaminan, namun kelincahan perusahaan menjadi kunci keberhasilan meraih prestasi dengan cepat. Hal ini ditunjukkan oleh Bisnis online yang mengancam pemain-pemain besar pada industri transportasi dan retail dan jasa keuangan di seluruh dunia. Ini membuktikan bahwa yang cepat dapat memangsa yang lambat dan bukan yang besar memangsa yang kecil.

Bagaimana solusinya agar selamat dari perubahan yang cepat ini? Pertama, harus peka dengan perkembangan tekhnologi. Internet sudah ketinggalan. Kini era superkomputer, robot pintar, kendaraan tanpa pengemudi, editing genetik dan perkembangan neuroteknologi yang memungkinkan manusia untuk lebih mengoptimalkan fungsi otak , Artificial intelligence. Kedua, perubahan lingkungan bisnis tampak lebih jelas (change takes hold). Pada tahap ini perubahan sudah tampak jelas baik secara teknologi maupun dari sisi ekonomis. Anda harus berani mengubah model bisnis yang sesuai dengan lingkungan yang berubah.

Ketiga , transformasi yang tak terelakkan (the inevitable transformation). Pada tahap ini, model bisnis baru sudah teruji dan terbukti lebih baik dari model bisnis yang lama. Oleh sebab itu, cepat genjot pertumbuhan dan ekspansi agar tidak kehilangan momentum yang cepat berubah. Ingat jarang sekali ditemukan perusahaan mati karena bergerak terlalu cepat, namun sebaliknya yang seringkali ditemukan adalah perusahaan mati karena bergerak terlalu lambat. Keempat , adaptasi pada keseimbangan baru (adapting to the new normal). Pada tahap ini, anda sudah tidak memiliki pilihan lain selain menerima dan menyesuaikan pada keseimbangan baru karena fundamental industri telah berubah dan anda tidak lagi menjadi pemain yang dominan. Anda hanya dapat berupaya untuk tetap bertahan di tengah terpaan kompetisi.

Wednesday, April 4, 2018

Lawan keras Jokowi...

Memasuki 'tahun politik 2018', elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) terus menguat. Bahkan lembaga survei Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) menyebut hingga detik ini belum ada lawan yang seimbang untuk Jokowi di pilpres 2019. Dalam survei SMRC, elektabilitas Jokowi berada di peringkat pertama top of mind responden dengan 38,9%. Disusul Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan 10,5% dan mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 1,4%. Jokowi juga unggul dalam survei capres dengan pilihan semi terbuka (jumlah nama kandidat dibatasi) dengan 53,9%. Untuk Prabowo Subianto hanya naik sedikit ke angka 18,5%. Nah dari data itu apa yang mungkin terjadi ?

Kemungkinan besar PS tidak akan mencalonkan diri sebagai capres. Tetapi dia akan jadi King maker. Tentu deal ini dengan pihak sponsor kuat dalam hal logistik. Jadi siapa capres ? Perhatikan issue yang dilontar secara serentak oleh kubu Gerindra , PKS walau iramanya beda namun lagunya sama. Gerindra mendengungkan perlunya pemimpin seperti Putin yang keras dan berani. Dan ini diperkuat oleh PS yang mendengungkan soal ketimpangan GINi yang mengancam keutuhan NKRI dan karenanya perlu pemimpin keras dan jujur. Dan di barisan libero ada PKS yang mendengungkan asal bukan Jokowi. Kita dapat simpulkan arah jargon berupa sinyal itu kepada Gatot Nurmantyo, mantan panglima TNI. Tentu pada pasangannya adalah tokoh Islam muda. Nah ini ada dua kemungkinan Anies atau TGB.

Walau elektabilitas Gatot dan pasangannya rendah namun kasus pilgub dki bisa saja terulang dalam Pilpres 2019. Anies - Sandi yang rendah elektabilitas nya bisa meroket dalam waktu singkat dan akhirnya unggul dalam pilgub. Kalau Gatot tampil bersama pasangannya yang Islam acceptable maka apapun issue dan janji yang diangkat mereka akan sangat mudah mendapatkan kepercayaan dari rakyat. Apalagi Gatot sudah punya Share terhadap Umat Islam dalam aksi 411 dan 212. Ditambah lagi bila wakilnya mendapat dukungan kiyai dan habit. Belum lagi dukungan dari konsultan politik ES yang memang piawai memetakan kekuatan lawan untuk menentukan strategi yng jitu menjebol pertahanan lawan.

Nah bagaimana cara Jokowi bisa memenangkan pertarungan ini? PDIP harus mampu merebut hati PD dan PAN serta meyakinkan PKB tetap berada dibarisan Jokowi. Kalau dengan ketiga partai ini PDIP tidak bisa membangun koalisi maka pertarungan Pilpres akan jadi to be Or not to be bagi ketiga partai itu yang semua tahu mereka menguasai sayab ormas Islam yang mlitan dan ini akan dimanfaatkan dengan piawai oleh PKS untuk memastikan asal bukan Jokowi. Kita semua tahu bahwa Jokowi tampil disituasi yang tidak tepat dimana situasi ekonomi dunia sedang lesu dan Jokowi sedang focus melakukan recovery ekonomi akibat kesalahan masa lalu. Ini akan sangat mudah dijadikan bulan bulanan lawanya dengan mengusung soal ketimpangan GINI, utang negara, dan harga barang yang naik. Data soal itu valid.

Bagaimana cara kita mendukung Jokowi melalui sosial media ? Kita harus focus meng counter serangan cyber yang menyudutkan Jokowi dengan narasi yang mudah dipahami orang awam dan tetap santun tanpa terpancing mengolok ngolok tokoh Islam atau lawan politik Jokowi. Yakinlah bahwa satu satunya yang bisa kita lakukan adalah menyampaikan kebenaran niat dan kinerja Jokowi dengan data. Hasil salah satu lembaga survey menyebutkan bahwa pemilih Jokowi umumnya mereka yang berpendidikan rendah, dan mereka kelompok yang renta di provokasi soal apa saja, apalagi soal agama. Kita harus terus menjadikan Jokowi sebagai pilihan cerdas tanpa terkesan kita meng cluster Jokowi dari pendukungnya.

Moralitas kapitalisme




Kalau anda pergi ke mall akan terasa suasana yang sejuk berpendiingin secara central. Semua bersih dan nyaman menatap etalage dari setiap outlet. Sangat berbeda dengan suasana pasar tradisional yang serba kumuh dan panas. Mall adalah contoh bagaimana kapitalisme bekerja efektif untuk menjual. Anda masuk mall , anda mendapatkan semua fasilitas mall lengkap dengan kenyamanannya. Apakah itu semua gratis ? tidak. harga barang yang ada di mall itu sudah termasuk jasa atas fasilitas yang ada nikmati di mall itu. Kapitalisme tak terbatas pada sebuah tempat, ketika barang jadi komoditas dan hubungan antarmanusia adalah hubungan jual-beli, termasuk citra. Karena manusia bukan hanya butuh benda tetapi juga sesuatu yang bukan benda. Semua ada harganya dalam pasar yang terbuka.

Melihat Mall kita melihat kebebasan privat menentukan harga diatas legitimasi negara. Pemerintah hanya memberi izin dan bagaimana transaksi dan harga, pemerintah tidak ikut campur. Yang pasti hanya yang punya uang yang boleh bertransaksi dan pasti tidak ada subsidi. Penomena ini datang setelah tahun 1980 an sejak Milton Friedman memperkenalkan bhawa Pasar berdiri tampak lebih luhur ketimbang Negara. Seri ceramah TV Friedman, Free to Choose, jadi alkitab bagi mereka yang ogah atau jera akan campur tangan Negara dalam ekonomi. Mengapa ? Karena orang tidak melihat keadaan menjadi lebih baik bila segala sesuatu negara yang mengendalikan dan pemerintah terlalu kuat menentukan nilai.

Mengapa ?

Yang terjadi dan pasti terjadi adalah negara menjadi liberal terhadap kesewenangan birokrat untuk membagi kue ekonomi kepada kroni swasta yang menikmati rente. Ketika pemilu mereka inilah yang menjadikan suara sebagai komoditas, dan ongkosnya dibayar oleh kroni yang menikmati limpahan laba dari bisnis rente. Keadaan ini berulang ulang dan akhirnya menjadikan demokrasi hanya semacam lapau kopi, kumpulnya para mereka yang sependapat karena pendapatan sama. Friendman, tahu betul itu dan ia berargumentasi : kalau negara ingin kuat dan stabil maka perlu ada deregulasi dan privatisasi. Mengapa ? Negara itu sesuatu yang buruk. Pasar itu selamanya penting. George Soros kemudian menyebut pandangan macam itu fundamentalisme pasar; Paul Krugman menamakannya absolutisme laissez faire.

Tetapi…

Tahun 2008, teori Friedman yang mengusung neo liberal yang jadi hadith bagi ekonom lulusan Amrik, justru membuat moneter AS terjerembab akibat jatuhnya wallstreet dengan mega skandal Lehman. Pasar bebas menimbulkan paradox. Bukan hanya Amrik yang tekor tetapi juga dunia. Sampai kini negara didunia masih bergelut keluar dari krisis global. Orang tidak lagi merasa bebas ketika likuiditas mengering dan harga melambung tak terjangkau lagi. Yang kaya jatuh miskin dan yang miskin kehilangan pekerjaan. Financial freedom lewat berhutang justru memenjarakan kebebasan itu sendiri. Kebebasan pasar dan kekuatan negara sama buruknya. Lantas apa penyebabnya dan bagaimana seharusnya menyikapi kapitalisme itu.?

Saya tertarik dengan pendapat Amartya Sen dalam tulisannya di The New York Review of Books bertanggal 26 Maret 2009, ia menyebut bahwa para penerus Adam Smith, pemikir yang sering disebut sebagai bapak paham kapitalisme itu, telah keliru bukan karena sang bapak salah. Mereka keliru karena Smith, dalam bukunya yang pertama, The Theory of Moral Sentiment, bukan orang yang menganggap kehidupan bersama adalah sesuatu yang hanya dibentuk oleh Pasar, oleh kepentingan diri dan motif mencari untung. Smith, sebagaimana dikutip Sen, juga berbicara tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat bermasyarakat. Dan itu adalah sifat-sifat yang tak menentang Pasar. Mereka justru diperlukan Pasar agar berjalan smooth.

Tahun 2013 sampai sekarang ada ratusan Mall di China. AS , Eropa ditutup karena ditinggalkan pelanggan yang beralih kepada belanja online. Pasar tidak perlu menciptakan nilai tambah selain komoditas dan kualitas. Pasar tersedia, dan mata rantai distribusi terputus oleh semangat gotong royong antara produsen dan konsumen yang juga sebagai market maker. Ini semua terjadi bukan hal yang baru tetapi sudah dingatkan oleh Adam Smith jauh sebelumnya. Tukar-menukar komersial tak dapat berlangsung secara efektif sampai tumbuh moralitas bisnis atas dasar trust, misalnya tak perlu packaging dan etalage mewah untuk mendapatkan harga pantas.

Kapitalisme yang berorientasi laba selamanya mendapatkan dukungan moral. Karena tanpa laba tidak akan terjadi fungsi sosial yang berkelanjutan.Tanpa kreatifitas dan kerja keras hanya menghasilkan pengemis dan tukang ngeluh yang tidak memberikan nilai terhadap kemajuan peradaban