Sunday, February 26, 2012

Petani

Pada satu wilayah yang dihuni sebagian besar petani, kehidupan sangat makmur dan sejahtera. Mengapa? Karena petani mampu mengorganisir dirinya berdasarkan system yang dibangun oleh Negara.  Ketika panen, biasanya harga akan jatuh dan pada waktu bersamaan petani dituntut untuk mendapatkan uang tunai guna membayar hutang hutangnya. Pada posisi ini petani dalam keadaan terjepit. Bila dia tidak jual maka dia akan mengalami kesulitan memenuhi likuiditasnya namun bila dijual , petani akan mengalami kerugian. BIasanya petani tidak punya pilihan kecuali melepas hasil produksinya dengan harga berapapun. Itulah sebabnya petani selalu lemah dan terlemahkan. Namun dengan adanya system yang terbangun dalam bentuk Resi gudang, petani bisa menahan hasil produksinya untuk tidak dijual bila harga jatuh dan tetap mendapatkan uang tunai melalui penjaminan atas barang yang ditempatkannya  digudang. Petani akan melepas barangnya kapan saja bila harga dirasa membaik dan menguntungkan.

Dalam system ini tentu ada tiga pihak yang terlibat , yaitu petani itu sendiri,  pengelola Gudang yang terdaftar di Lembag Pengawas dan Lembaga Penjamin Ganti Rugi. Ketiga pihak ini bekerja sesuai aturan yang berlaku dimana Negara sebagai lembaga pengawas satu satunya untuk memastikan system itu bekerja efektif. Lembaga pengelola Gudang juga dilengkapi kemampuan market analisis yang terhubung dengan market domestic network ( MDN) dan bursa internasional . Data dan informasi pasar ini dengan system IT dapat di access oleh petani hingga memungkinkan mereka punya kekuatan tawar dihadapan pasar uang untuk menentukan value resi gudangnya. Artinya petani dapat melepas resi gudangnya sebagai jaminan hutangnya kepada lembaga keuangan yang mau memberikan pinjaman berdasarkan value yang diyakini. Di sisi lain,  lembaga keuanganpun harus mempunya kemampuan analisa pasar yang solid untuk melakukan deal dengan petani.

Berdasarkan kesepakatan dengan petani, lembaga keuangan dapat menerbitkan warkat sesuai jangka waktu tertentu. Warkat ini dapat lagi diturunkan dalam bentuk warkat lain atau dikenal dengan derivative. Inilah yang akan beredar dipasar uang. Semua itu bermuara kepada harga masa depan sesuai kontrak. BIla harga jatuh maka pasar  dirugikan tapi tidak bagi petani yang sudah lebih dulu mendapatkan uang dari hasil penjaminan resi gudangnya.  Namun bila harga naik dimasa depan, petani akan mendapatkan yield tambahan sesuai kontrak harga yang ditetapkannya. Jadi benar benar petani bertindak sebagai price maket , bukan prica taker. Dengan system tersebut diatas, tengkulak terkapar, tukang ijon terkapar. Keadilan tercipta. Petani sejahtera.

Sebetulnya Resi Gudang ini sudah diterapkan lama di Eropa, AS yang dikenal sebagai Negara kapitalis namun tetap melindungi  petani yang lemah untuk mempunya posisi tawar dihadapan financial resource karena  ketidak pastian harga pasar. Bahkan di China, Resi Gudang sudah menjadi bagian dari platform perjuangan petani melawan hegemoni pemodal yang kadang bermain dengan demand and supply untuk menekan harga produksi petani.  Keberadaan Resi Gudang dinegara tersebut telah meramaikan produk pasar uang dengan likuiditas yang sangat tinggi. Derivative Resi Gudang berkembang pesat seiring meluasnya sumber keuangan yang siap menyerap produk investasi Resi Gudang ini. Akibatnya kehidupan petani di negara tersebut bukanlah second class tapi menjadi prime class. Mereka berdaya karena diberdayakan oleh kekuatan system yang di create oleh negara. 

Mungkin karena itulah tahun 2006 DPR membahas  RUU Resi Gudang dan akhirnya disyahkan oleh DPR ( UU N0.9/2006). Namun sayangnya sejak di syahkannya UU itu, keberadaan Resi Gudang tidak efektif. Karena memang visi nya jelas namun tidak jelas bagaimana imlementasinya. Barulah tahun 2011 bulan Juni , UU ini direvisi oleh DPR dengan masuknya ketentuan keharusan pemerintah membentuk Lembaga Penjamin. Kalau dulu hak petani tidak ada dalam menentukan timing menjual namun dengan revisi UU ini ketentuan hak petani dilindungi khususnya timing menjual barang. Artinya, bila panen, harga jatuh petani berhak untuk tidak menjual barangnya dan baru akan dijualnya bila harga mulai membaik. Hal ini dapat dilaksanakan karena tersedianya lembaga penjamin. Dengan demikian Resi Gudang dapat dijadikan salah satu financial resource bagi petani.

Kita berharap revisi UU Resi gudang ini dapat segera ditindak lanjuti dengan membentuk Lembaga Penjamin, Lembaga Pengelola Gudang , dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana mendidik petani memahami UU ini dan ketersediaan akan akses IT untuk memungkinkan petani dan kelompoknya mampu melakukan analisa harga sebelum mereka melakukan kontrak dengan pasar uang yang berbasis komoditi. Yang jadi pertanyaan kini adalah apakah lembaga keuangan atau Bank mau terlibat dalam skema pembiayaan ini ? Karena mereka juga harus mempunya kemampuan analisa pasar yang kuat dan juga mau menjadikan petani sebagai nasabah pontesial penyaluran kredit. BI , juga harus menyikapi UU ini dengan memberikan kelonggaran aturan mengenai assessment credit yang sesuai dengan kelembagaan Resi Gudang. Semoga impian  menjadikan UU SRG ( system Resi Gudang ) sebagai cara petani mendapatkan keadilan dan kesejahteraan dapat terjelma.

Thursday, February 23, 2012

Reputasi Pemerintah..

Di China, tersebutlah dimana sang kepala daerah kehillangan akal untuk mendapatkan dana guna merealisasikan impian membangun pasar rakyat berskala modern berstandar International. Pasar ini bukan ukuran kecil tapi berukuran raksasa denggan menyerap lahan lebih dari 80,000 meter persegi. BIla bangunan ini selesai akan menampung pedagang kecil berjumlah 40,000 unit. Lantas mengapa perbankan atau lembaga keuangan tidak bersedia memberikan pinjaman guna merealisasikan impian ini ?  Bukan karena permintaan kios yang kurang minat. Bukan!. Tapi karena syarat yang ditetapkan Pemda yang membuat perbankan dan investori institusi  berkerut kening. Mengapa ? Pemda tak ingin kios itu dijual karena kawatir akan memberikan peluang orang berduit menguasai kios dan menyewakan kepada pedagang kecil dengan harga selangit. Pemda juga tak ingin kios itu disewakan karena kawatir hanya pedagang yang qualified secara financial yang mampu sewa, sementara yang tidak qualified tidak bisa menyewa. Itulah  penyebabnya hingga project impian itu dinyatakan tidak feasible oleh perbankan.

Ditengah keterbatasan sumber pembiayaan itu, ditengah tatapan sinis lembaga perbankan, project itu dalam jangka waktu tidak lebih dua tahun sudah terbangun. Dari mana pemda mendapatkan uang itu ? Apakah dari APBD yang dananya bersumber dari Pusat? Tidak. Lantas darimana ?. Karena Pemerintah pusat melarang PEMDA menarik pinjaman dari manapun maka PEMDA membentuk LGFV ( Local Government Fund Vehicles ). LGFV ini semacam agent fund raising namun bukan lembaga resmi pemerintah. Caranya LGFV menerbitkan bond berbasis revenue. Nominal perlembar revenue bond itu Rp. 20,000. Untuk memenuhi anggaran pembangun sebesar Rp. 4 triliun maka 200 juta lembar revenue bond dilepas kepublic. Karena nominal bond itu kecil maka dipastikan kelompok atas,menengah maupun bawah dapat menyerapnya. Sumber revenue berasal dari komisi penjualan atas setiap produk yang dijual oleh penghuni kios. Pemda menetapkan komisi sebesar  5 %. Untuk memastikan system komisi ini berjalan efektif dan efisien.  40,000 kios terhubung secara IT melalui cash management yang dikelola oleh BUMD. Setiap pemilik kios memiliki kartu PayPal yang memungkinkan mereka dapat membayar komisi pemda secara online.

Per bulan rata rata turnover transaksi di pasar itu mencapai Rp. 4 triliun dan bila 5 % komisi pemda maka jumlah revenue Pemda sebesar Rp. 200 miliar. Bila anggaran membangun pasar itu mencapai Rp. 4 triliun maka di pastikan dalam dua tahun revenue pemda itu sudah bisa meluniasi  revenue bond. Sebelum pemda melunasi , pemda menawarkan opsi dalam bentuk penyertaan koperasi. Artinya public bisa menukar revenue bond itu dalam bentuk penyertaan koperasi. Mekanisme dan adminisrasi dilakukan secara IT system , sehingga public mempunyai akses untuk  mengetahui prospek pengelolaan pasar itu dan ketika tawaran opsi revenue bond ditukar dengan penyertaan koperasi maka serta merta public menyetujuinya. Mengapa public begitu antusias dengan skema revenue bond ini? Karena yield ( imbal hasil ) jauh lebih tinggi ketimbang mereka menempatkan dananya di bank yang berbasis bunga/RIBA.

Sementara akumulasi dana dari pengelolaan pasar itu dapat pemda gunakan untuk membangun infrastruktur ekonomi lainnya sepeti PDAM, Listrik, Jalan toll. Setelah selesai dibangun maka Pemda dapat menerbitkan bond berbasis revenue .Setelah berjalan dua tahun dan provent mendatangkan yield maka  dapat ditukar dalam bentuk penyertaan koperasi. Tanpa disadari semua infrastruktur ekonomi yang berhubungan dengan orang banyak dibiayai oleh masyarakat sendiri. Kalau dulu nenek moyangnya mengajarkan membangun sarana prasarana kampung secara gotong royong melalui kekuatan phisik namun kini gotong royong dirancang oleh para ahli keuangan, insinyur , akuntan, dan IT. Mereka diayomi oleh pejabat Negara yang bersih dan amanah. Maka jadilah negeri yang makmur sejahtera dibawah lindungan Tuhan. Karena semua terbangun tanpa Riba. Karena sudah meluas penggunaan LGFV ini maka Pemerintah Pusat mulai berpikir untuk melembagakan LGFV ini agar pihak investor terjamin keamanannya dan penggunaannya lebih terkontrol. Rencananya tahun 2015 Daerah sudah boleh menerbitkan municipal bond.

Mungkinkah ini terlaksana di Indonesia ? apakah mungkin public dari segala golongan mampu  menjadi investor bagi keperluan penyediaan infrastruktur ekonomi? Jangan pernah meremehkan kekuatan komunitas. Kata pejabat China.  Saya tertegun dengan kata kata itu. Dia benar! . Betapa tidak. Data pelanggan selular di Indonesia kini mencapai lebih 250 juta. Hitunglah berapa kekuatan dana dari komunitas itu bila harga per unit telp selular itu minimal Rp. 500,000 dan belanja pulsa per bulan Rp. 20.000. Kelompok menengah Indonesia juga dahsyat kalau dilihat dari data pelanggan blackberry yang berjumlah kl 4 juta dan mereka harus menguras dana perbulan diatas Rp. 100,000, Mereka semua adalah investor potensial untuk menyerap revenue bond bernominal dibawah Rp 20,000 perlembar. Ini peluang bagi Pemda untuk menjadikan mereka sebagai financial resource.

Padahal UU mengenai municipal bond berbasis revenue ini sudah lama di syahkan oleh DPR. Sementaca China Municipal bond baru akan diterapkan 2015. Peraturan Pemerintah mengenai petunjuk pelaksanaan , juga sudah diterbitkan. Peraturan Menteri Keuangan yang menyangkut aspek tekhnis penerbitan municipal bond juga sudah dikeluarkan. Lantas mengapa sampai kini municipal bond berbasis revenue itu tidak efektif sebagai financial resource ? Padahal rakyat indonesia berbudaya gotong royong. Mengapa sampai kini pemerintah masih pusing memikirkan sumber dana asing agar infrastrutkur terbangun? Mengapa ? Jawabnya hanya satu., yaitu selama ini pemerintah tidak punya reputasi lagi dihadapan rakyat karena memang tidak punya integritas sebagai pejabat yang amanah. Rakyat lepas dari orbitnya dan pemerintah asyik dengan dirinya sendiri.Semoga kedepan Skema municipal bond berbasis revenue ini dapat diterapkan oleh PEMDA.

Saturday, February 18, 2012

Alat perang

AAI Corporation, BAE Systems Inc., Boeing, Carlyle Group,Colt's Manufacturing Company, General Atomics, General Electric ( GEAE),General Dynamics, Honeywell, Lockheed-Martin, Northrop Grumman Corporation, Raytheon Corporation, United Technologies , Pratt and Whitney, Sikorsky Aircraft Corporation. Itu adalah deretan nama perusahaan yang mungkin sebagian anda hanya mengenal nama Boeing yang berhubungan dengan pesawat terbang atau GE yang berhubungan boklam. Tapi sebetulnya kedua perusahaan itu tidak hanya menghasilkan produk generic tapi juga senjata perang, sama dengan deretan nama lainnya.  Data research membutkikan perusahaan perusahaan tersebut mencatatkan penjualan pertahunnya diatas USD 1 trilun atau sama dengan delapan kali APBN kita atau dua kali dari GNP kita.  Anda bisa bayangkan betapa raksasanya mereka.

Bagaimana laba yang mereka peroleh ? dalam satu kesempatan saya pernah bersinggungan dengan pembiayaan project yang pemasok  komponen kebutuhan industry tersebut diatas. Pemasok itu berasal dari China yang bermarkas di Zuhai. Dari data aspek financial yang saya pelajari betapa terkejutnya saya bahwa laba per unit komponen itu bisa mencapai 100%. Ini business menggiurkan. Namun menurut pemasok itu bahwa untuk mendapatkan pesanan tidaklah mudah. Membutuhkan loby yang sulit dan tidak murah. Yang berkuasa dalam business ini adalah para broker ( perantara ) yang punya koneksi kepusat kekuasaan di AS.  Lantas siapa perantara itu ? kebanyakan adalah pe business Arab yang berkantor di London dan NY. Mereka dikenal sebagai peloby ulung karena kehebatan mereka mendatangkan pesanan miliaran dollar AS dari negara Negara Arab kaya minyak.

Bila pemasok komponen menjual mendapatkan keuntungan sebesar 100% lantas bagaimana dengan pabrikan itu sendiri menjual hasil produksinya kepada Negara yang membutuhkan peralatan system pertahanan? Dari penjelasan pemasok , saya dapat ketahui bahwa laba yang didapat oleh pabrikan itu bisa mencapai 10 kali lipat dari harga pokoknya. Jadi bila satu buah pesawat jet tempur seharga USD 250 juta maka harga pokoknya hanyalah USD 25 juta. Ini belum termasuk spare part dan training. Sekali pembeli memesan alat perang maka selamanya pembeli tergantung spare part dari pabarikan.  Soal harga spare part , kekuasaan ada pada pabrikan. Pihak pembeli tidak bisa bernegosiasi. Mereka harus membeli atau alat perangnya useless.  Jadi benar benar business memeras.

Bagaimana jangka panjang business ini ? tanya saya. Pemasok itu menjelaskan bahwa selama ada kerakusan entah itu pengusaha atau penguasa maka selama itupula business ini akan selalu mendapatkan pesanan. Setelah perang dingin usai memang strategi pemasaran produk ini kehilangan momentum namun mereka tidak kehabisan akal. Para perancang pemasaran produk ini adalah politisi yang mendapatkan masukkan dari ahli strategi global yang umumnya adalah orang yahudi. Lewat analisa strategi global inilah rasa cemas dibangun, rasa takut ditebar, rasa tidak aman di kampanyekan. Ada tiga strategy yang diterapkan yaitu 1. Terorisme. 2. Komplik kawasan antara china dengan tetangganya. Antara Rusia dengan tetangganya. Antara Arab dengan israel , Antara Indonesia dengan tetangganya. 3. Iran. Ketiga hal ini saling kait mengkait yang membuat dunia tidak aman.

Arab dengan kekayaan petro dollarnya terus belanja alat senjata demi memperkokoh rezim monarkynya. Taiwan yang bekerja keras siang malam untuk menumpuk devisanya harus mengurai anggaran nationalnya untuk belanja alat perang guna perlindungan dari serangan China. Korea Selatan juga tak ada bedanya dengan Taiwan yang terus mengeluarkan anggaran nasionalnya untuk belanja alat perang guna perlindungan dari serangan Korea Utara.  Singapore dan Malaysia juga melakukan hal yang sama dengan Korea dan Taipeh, Terus setiap tahun belanja alat perang guna perlindungan diri dari Indonesia. Rasa takut dan cemas berpadu jadi satu sebagai ujud rasa tidak aman. Maka para pabrikan senjata akan mendulang laba tak terbilang. Industri senjata memang mengasyikan, karena tidak membutuhkan tenaga kerja berlebih, dan tidak perlu transfarance. Soal promosi , tugas negara dan politisi untuk menciptakan market requirement.

Begitupula business turunan dari senjata yang dekat dengan politik berkaitan dengan konsesi business dinegara negara yang butuh senjata. Jumlahnya tak terbilang. Bahkan hampir sebagian besar potensi negara tersebut praktis dikuasai oleh mereka. Dari semua inilah elite AS menikmati kemakmuran dan menguasai dunia dan mereka tidak peduli lagi soal industry dalam negeri mereka yang menyerap angkatan kerja massal tergusur oleh China. Tak peduli. Karena para pemegang saham pabarikan senjata itu bukanlah Negara tapi sebuah lembaga swasta yang memang buta nasionalisme.
***
Tekad TNI untuk meremajakan Alutsista harus dievaluasi secara menyeluruh. Kita kawatir bila program ini tak lain seni provokasi business persenjataan agar Malaysia dan Singapore semakin memperbesar anggarannya dan disatu sisi kita juga terpancing untuk menguras anggaran kita untuk itu. Sementara perang sesungguhnya seperti yang ditakutkan itu sebetulnya tidak pernah ada. Itu hanya ada dalam  pikiran karena rasa takut dan tidak aman. Keamanan sejati adalah hidup rukun damai diatas rasa hormat untuk saling menjaga dan menolong. Selagi pertikaian tetap ada maka yang diuntungkan adalah pabarikan senjata. Semoga ini disadari oleh semua elite politik,

Sunday, February 12, 2012

Israel dan Islam

Ada hal yang menarik waktu bertemu  dengan Mark sebelum saya pulang ke Jakarta. Dia sengaja mengundang saya untuk bertemu denganya di Financial Club. Menurutnya ada business bagus yang harus dibicarakannnya. Saya tidak mengerti mengapa dia bicara business. Dia hanyalah fund manager yang setiap hari berkutat dengan data financial dan analisis. Ketika bertamu , dia memperkenalkan clients nya dari China. Clients nya pengusaha dibidang high tech. Dia cerita bahwa clients mendapatkan order dari Israel untuk mensuplai kebutuhan peralatan elektonica canggih system pertahanan AS. Saya sempat terkejut karena dia bicara tentang business persenjataan dan sekaligus menyinggung tentang keberadaan Israel dibalik suplai kebutuhan industry persenjataan srategis di AS. Dia menginginkan saya membantu memberikan solusi sumber pendanaan karena di china kredit export sudah semakin sulit. Kalau mungkin dia menawarkan kerjasama agar saya terlibat dalam business ini.

Today, Israeli contributions to U.S. national interests cover a broad spectrum. Through joint training, exercises and exchanges on military doctrine, the United States has benefited in the areas of counter-terrorism, intelligence and experience in urban warfare. Increasingly, U.S. homeland security and military agencies are turning to Israeli technology to solve some of their most vexing technical and strategic problems. Demikian dia mengawali. Sebagaimana biasanya , saya lebih suka menjadi pendengar yang baik sebelum saya bersikap. Dia mengatakan bahwa Israel tak ubahnya sebagai second home bagi AS. Hampir semua blue print system pertahanan AS dirancang dan dikembangkan oleh Israel.

Walau Israel Negara kecil namun keberadaan mereka dibidang system pertahanan strategis mencakup jet tempur canggih, system radar, system alteleri (rudal) , system serbu darat , dll adalah sangat maju. Lantas bagaimana dengan pemerintah AS sendiri. Tanya saya.l Menurutnya pemerintah AS hanyalah pengambil kebijakan. Kebijakan itu berdasarkan analisa geopolitik dan geostrategic yang dibuat oleh team ahli international Israel sendiri. Mereka adalah lembaga Study yang umumnya dikomandani oleh mantan mantan pejabat tinggi AS  , yang masih sangat kuat pengaruhnya di lingkaran satu kekuasaan AS.

Pertanyaan besar saya adalah bagaimana AS begitu percayanya dengan Israel? Teman itu tersenyum sambil menjelaskan bahwa Israel memang sejak berdirinya dirancang untuk berperang. Umumnya Negara dalam keadaan berperang sangat piawai mempersiapkan segala sesuatunya untuk bisa bertahan, termasuk riset persenjataan. Disamping itu , sudah menjadi platform AS juga Barat bahwa islam sebagai idiologi adalah musuh bersama yang harus diperangi. Selagi keberadaan Israel tetap dipermasalahkan bagi umat islam itu tandanya platform kebijakan global tetap eksis. Mengapa ? tanya saya bingung. Menurutnya lagi bahwa satu satunya agama yang berhasil membangun imperium dunia dan bertahan lebih dari 600 tahun adalah Islam. System islam inilah yang menjadi momok menakutkan sehingga kadang disebut sebagai islam phobia. Bila Israel tumbang maka tumbanglah sekularisme. Islam akan menjadi kekuataan baru yang tak mungkin ada satupun idiologi yang bisa membendungnya.

Bukankah sekarang islam sudah diterima luas oleh masyarakat Eropa dan AS. Islam bukan ancaman serius. Itu saya katakan dengan tegas. Namun dia mengatakan , benar pemeluk agama islam bukanlah ancaman. Yang menjadi ancaman adalah islam sebagai idiologi bernegara. Karena prinsip islam tidak mengenal local tapi globalisasi. Sekali idiologi islam mendapatkan peluang untuk tumbuh dan berkembang maka tidak akan membutuhkan waktu lama  bagi mereka untuk menjadi kekuatan besar dunia dan menggusur semua idiologi. Dia juga menyitir firman Allah tentang keharusan umat islam untuk berdakwah menegakkan hokum Allah secara konprehensive. Ini bukan mitos. Ini serius. Makanya islam ditakuti oleh semua system yang ada didunia. Demokrasi, kapitalisme, sosialisme, komunisme , bergandengan tangan untuk menjadi kekuatan melawan pengaruh idiologi islam masuk kedalam system bernegara.

Jadi itu sebabnya Iran menjadi musuh bersama Barat/ AS juga Negara didunia lewat PBB. Kata saya. Dia menganguk . Segala jenis propaganda digunakan untuk mengecilkan peran Iran sebagai sponsor gerakan bangkitnya kekuatan islam. Termasuk isyu syiah – sunni dipakai agar umat islam terpecah dan terkecilkan dalam pertarungan global merebut hegemony system. Hanya soal waktu Iran akan dihabisi. Katanya. Juga sebagaimana dketahui bahwa ada G20 compliance yang memastikan setiap anggota harus digaris depan membendung hegemoni islam dalam system demokrasi, termasuk membatasi pengaruh islam dalam UU dan Peraturan dinegara yang menjadi mitranya. G20 lebih besar pengaruhnya dan lebih berwibawa dibandingkan WTO dan IMF. G20 sebagai icon kekuatan new world order dalam platform baru dan Indonesia  anggota dari G20,katanya tesenyum.

Saya berusaha meredam ekspresi wajah saya dihadapan teman ini. Betapa saya sangat tersinggung. Tapi apa hendak dikata, sebagian besar elite politik  yang beragama islam tidak menyadari soal inil.  Mereka larut dan mabuk dunia untuk menerima system yang bukan ditentukan oleh Allah dan Rasul. Pada waktu bersamaan kehadiran mereka tak ubahnya sebagai boneka dari kekuatan musuh musuh orang beriman. 
Dengan sesuatu alasan, saya memilih untuk mengakiri pertemuan ini. Itulah yang bisa saya lakukan dalam ketidak berdayaan sambil pulang untuk berdoa. Semoga Umat islam tetap istiqamah dalam perjuangan menegakkan kalamullah…

Sunday, February 5, 2012

Buruh.

Jumat malam datang SMS “When the world is ready to fall on your little shoulders, And when you're feeling lonely and small, You need somebody there ..” saya tersenyum. Wenni selalu begitu bila dia ingin bertemu dengan saya. Petikan lagu  you are only lonely adalah ciri khasnya untuk mengingatkan kepada saya bahwa saya tidak sendirian. Dia sahabat saya. Awal saya kenal dia sebagai periset bidang social di Shanghai. Kemudian , dia hijrah ke Hong Kong sebagai periset di sebuah lembaga investasi.  Kami bertemu di sebuah café dan tak pernah merasa sungkan bila harus berada di café yang tak berkelas. Seperti biasanya bila bertemu kami suka sekali membahas masalah social dalam pembicaraan relax. Saya mendapatkan pencerahan secara tidak langsung dari professional peneliti masalah social , apalagi dikaitkan dengan business.

Wenni , memang piawai melihat persoalan secara holistic dan kemudian menyimpulkan dari sudut praktis dan logis. Mungkin karena kebiasaanya menganalisa data dan terlatih sebagai pengamat maka membuat analisanya tajam walau terkesan sederhana. Seperti biasanya pula saya selalu mahir memancing dia untuk berbicara banyak. Ketika saya mengungkapkan ke prihatinan soal nasip  buruh di China , terutama dengan tersiarnya kabar derita  dari  Chengdu. Dia tahu berita itu  soal pekerja Foxconn ( outsourcing dari produsen APPLE Ipad ) yang telah memaksa buruh bekerja lebih dari standar rata rata. Lingkungan kerja yang tidak manusiawi dan jam kerja yang panjang. Dia juga tahu berita ini telah beredar diseluruh dunia dan seakan kompanye untuk memboikot produk APPLE Ipad yang dibuat oleh pabrikan di China.

Dia tersenyum. Itu tak lain seni propaganda dalam perang ekonomi. Jangan terlalu percaya dengan berita yang terkesan peduli akan HAM dan nasip buruh.Kalau memang pihak Barat/AS peduli kenapa tidak dari dulu ketika awal China masuk kepasar bebas ? tanyanya. Saya merasa dia sudah mulai terpancing. Ketahuilah, katanya bahwa ada 3 juta pekerjaan outsourcing dari pemilik merek di AS /Barat,Jepang  yang melibatkan berbagai pabrikan di China. Ini menampung angkatan kerja raksasa. Semua industry itu tumbuh karena permintaan pasar export. Sumber dana investasi pabrik itu sebagian besar dari Negara AS/ Barat. Hampir 70% rak rak toko di AS/Barat merupakan keluaran pabrik di china. Semua itu diproduksi dengan memeras buruh yang bekerja keras siang dan malam dengan standar gaji hanya 10% dari gaji pekerjaan yang sama di AS/barat.

Benarkah para pabrikan memeras buruh ? tanya saya. Menurutnya ini bukan soal memeras. Memang sudah budaya orang china gemar bekerja keras. Selagi pekerjaan itu mendatangkan uang maka mereka tidak peduli dengan segala resiko, kelelahan, kadang membuat kesehatan mereka memburuk. Bagi mereka lebih baik bekerja keras hari ini daripada besok bekerja keras mencari pekerjaan untuk makan.  Mereka tidak pernah dipaksa untuk lembur, justru mereka memaksa untuk dapat lembur. Tahun 1990 an upah buruh di  China hanya USD 0,45 per jam tapi sekarang sudah mencapai USD 2,40  ( Rp. 20,000) per jam. Rata rata mereka menuntut jam kerja diatas 10 jam. Kalau rata rata mereka bekerja sehari 16 jam (dua shift ) maka penghasilan mereka sehari adalah USD 38,40 atau sama dengan Rp. 345,000 perhari atau sebulan Rp. 9,000,000.0.

Bandngkan dengan upah buruh di Vietnam , Thailand, Indonesia. Nasip buruh China jauh lebh baik.  Katanya. Tapi mengapa media international selalu memberitakan hal negative. Tanya saya. Menurutnya ada agenda strategis dari Barat/AS agar pemerintah china terus melakukan peningkatan upah buruh.  Menurut riset bila upah buruh tembus diatas USD 3 per jam maka dipastikan 3,000,000 industri outsourcing akan pulang kampong kenegaranya masing masing. Sebagian besar industry itu berasal dari AS/Barat/Jepang. Karena sudah tidak efisien. Dan ini akan menguntungkan Negara tersebut karena akan menampung angkatan kerja yang kini terjebak dalam pengangguran massal akibat krisis global. Lantas bagaimana dengan buruh China. Akankan terjadi pengangguran massal akibat industry yang hengkang ? tanya saya.

Teman ini tersenyum lagi. Dia mengatakan bahwa sebetulnya agenda pertumbuhan ekonomi berdasarkan export sudah menjelang closed file. Hanya soal waktu akan closed file. Kini arah kebijakan Pemerintah china keliatannya adalah pasar domestic. Itu sebabnya China menaikan upah buruh tiga kali lipat selama lima tahun belakangan ini. Ini tak lain agar memicu daya beli masyarakat untuk berkonsumsi produksi dalam negeri dan sekaligus memicu tumbuhnya industri dalam negeri Disisi lain, pemerintah mulai menetapkan pajak eksport agar mata uang RMB tidak semakin menguat dan daya saing industry dalam negeri tetap tiggi terhadap barang import. Yang jadi masalah kini bukanlah rakyat China, tapi AS/Barat , kalau semua industry outsourcing kembali kenegaranya apakah buruhnya mau digaji sama dengan buruh di China, ? karena upah mereka sudah diatas rasional. Kalau mengikuti upah yang ada , apakah konsumen mampu membeli dengan harga tinggi ?

Menurutnya akan membutuhkan waktu lama bagi industri outsourcing untuk pulang ke negaranya masing masing. Dan pada waktu bersamaan CHina terus memperkuat industri dalam negerinya untuk persiapan menyerap buruh yang kehilangan pekerjaan akibat pabrik yang henngkang. Sekarang saya tersenyum. Demikian teman ini membuat analisa sederhana. Walau masih banyak pertanyaan dikepala saya. Tapi sudalah, setidaknya dia sudah menemani kebersamaan dimalam jumat ini. Hari telah menjelang malam. Saatnya pulang, dan pikiran saya kepada nasib buruh di negeri saya yang tetap menyedihkan ditengah harga yang terus melambung memenggal penghasilan mereka. Anehnya , para pejabat berbangga hati karena Indonesia sudah masuk G20 tapi upah buruh lebih buruk ketimbang Thailand dan Philipina yang bukan anggota G20.